kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 18.057   23,00   0,13%
  • IDX 4.997   -188,50   -3,64%
  • KOMPAS100 631   -26,97   -4,10%
  • LQ45 488   -20,09   -3,95%
  • ISSI 172   -7,03   -3,92%
  • IDX30 273   -10,40   -3,67%
  • IDXHIDIV20 357   -9,37   -2,56%
  • IDX80 72   -3,02   -4,00%
  • IDXV30 101   -1,50   -1,47%
  • IDXQ30 90   -3,25   -3,49%

Tren Kartu Pokémon Bangkit, Pola Distribusi dan Pembelian Ikut Berubah


Jumat, 01 Mei 2026 / 09:10 WIB
Tren Kartu Pokémon Bangkit, Pola Distribusi dan Pembelian Ikut Berubah
ILUSTRASI. Kartu Pokemon Mahal (Zen Market/Zen Market)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren koleksi kartu Pokémon yang kembali menguat sejak 2024 tidak hanya mendorong kenaikan harga, tetapi juga mengubah pola distribusi dan cara pembelian di pasar. 

Content creator sekaligus Pokémon Card Collector, Adipashya Yarzuq, menyebut sebagian besar kartu di Indonesia berasal dari jalur impor dan dijual melalui sistem pre-order (PO) maupun distributor hobi.

Menurutnya, kolektor umumnya mendapatkan kartu melalui toko khusus kartu koleksi, marketplace, hingga komunitas reseller yang mengambil stok dari luar negeri seperti Amerika Serikat atau distributor resmi.

Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Optimistis Raih Kinerja Keuangan Lebih Baik pada 2026

 “Ada yang PO, ada juga seller yang ambil langsung dari US atau distributor,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (30/4/2026). 

Di Indonesia, kartu biasanya dijual dalam bentuk booster pack atau booster box yang berisi beberapa kartu acak, dengan sistem rilis mengikuti jadwal global sekitar tiga bulan sekali. Kondisi ini membuat banyak produk harus dipesan terlebih dahulu sebelum dirilis resmi di pasar.

Berdasarkan penelusuran, sejumlah toko hobi dan marketplace di Indonesia menjual produk kartu Pokémon mulai dari puluhan ribu rupiah untuk booster pack hingga ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk satu booster box, tergantung seri dan kelangkaan produk. 

Hanya saja, Adipashya menilai jalur pembelian ini juga membuka risiko masuknya produk tidak resmi atau pasar sekunder yang tidak terkontrol. 

Adipashya menyebut, kolektor biasanya mengandalkan toko tepercaya atau komunitas untuk memastikan keaslian kartu, terutama pada kartu bernilai tinggi.

Ia menambahkan, meningkatnya minat sejak 2024 membuat perputaran barang semakin cepat, tetapi juga memicu spekulasi harga di pasar sekunder. 

“Sekarang aksesnya lebih mudah, tapi risikonya juga ikut naik,” imbuhnya.

Baca Juga: Unilever (UNVR) Raih Kinerja Positif di Kuartal I-2026, Cek Rekomendasi Sahamnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×