Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2026 masih dibayangi tekanan jual investor asing dan ketidakpastian terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kekhawatiran terhadap likuiditas, transparansi kepemilikan saham, dan tata kelola pasar modal Indonesia turut meningkatkan risiko investasi.
Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185,10. Indeks juga sempat memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt setelah mengalami koreksi tajam pada awal sesi.
Di tengah gejolak tersebut, nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 32,01 triliun. Tekanan pasar terutama tercermin dari aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp 3,34 triliun di seluruh pasar, dengan nilai penjualan Rp 17,4 triliun dan pembelian Rp 14 triliun.
Aksi jual asing paling besar menyasar saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 2,336 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 1,152 triliun dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 867 miliar.
Tekanan jual asing juga terjadi pada saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp 138 miliar dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 93 miliar.
Namun, sejumlah saham masih mencatatkan pembelian bersih investor asing di pasar reguler. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi saham dengan net foreign buy terbesar, yakni Rp 286 miliar.
Berikutnya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan pembelian bersih Rp 76 miliar. Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (EMAS) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) masing-masing membukukan net foreign buy Rp 58 miliar. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menyusul dengan pembelian bersih Rp 56 miliar.
Baca Juga: MSCI Menekan IHSG, Investor Disarankan Rotasi Portofolio Ke Sektor Ini
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, pergerakan IHSG hingga akhir 2026 masih menghadapi tantangan berat setelah MSCI mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
"Pasca pengumuman MSCI yang mempertimbangkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2026 cenderung bearish dengan volatilitas tinggi," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Menurut Nafan, potensi arus keluar modal asing atau capital outflow dan peningkatan premi risiko investasi menjadi faktor utama yang dapat menahan penguatan indeks.
"Tekanan terhadap IHSG berpotensi berlanjut seiring meningkatnya risiko arus keluar modal asing, kenaikan premi risiko investasi, serta melemahnya kepercayaan investor global terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia," tambahnya.
Baca Juga: Awas! MSCI Masih Bisa Tekan IHSG Hari Ini (19/10), Cermati Saham Pilihan Berikut
Reformasi Pasar Modal Jadi Kunci Pemulihan IHSG
Meski prospek jangka pendek masih menantang, Nafan menilai peluang pemulihan pasar saham Indonesia belum sepenuhnya tertutup. MSCI dijadwalkan mengumumkan keputusan akhir atas usulan reklasifikasi tersebut paling lambat 30 Juni 2027.
Jangka waktu tersebut dapat dimanfaatkan oleh regulator untuk memperbaiki struktur pasar modal, meningkatkan transparansi, serta memulihkan kepercayaan investor global.
Menurut Nafan, arah IHSG ke depan akan sangat bergantung pada langkah konkret Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan pemerintah dalam memperjelas data kepemilikan saham, meningkatkan keterbukaan free float, memperkuat perlindungan investor, serta memperbaiki likuiditas perdagangan.
Perbaikan tersebut penting untuk mengurangi ketidakpastian yang membayangi pasar saham domestik. Tanpa langkah yang konsisten dan terukur, tekanan arus modal asing berpotensi berlanjut dan meningkatkan volatilitas IHSG.
Dari sisi teknikal, Nafan memproyeksikan IHSG memiliki level support di kisaran 4.989 dan resistance di level 7.082 hingga akhir 2026.
Level tersebut menjadi acuan proyeksi pergerakan indeks di tengah ketidakpastian pasar. Investor tetap perlu memperhatikan perkembangan sentimen MSCI, arus transaksi asing, dan realisasi reformasi pasar modal sebelum mengambil keputusan investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














