Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia berpotensi melanjutkan koreksi, seiring seiring belum kuatnya momentum untuk kembali rally. Tekanan dolar AS dan dinamika ekspektasi suku bunga The Fed masih membayangi pergerakan logam mulia, meski permintaan aset lindung nilai berpotensi menahan pelemahan lebih lanjut.
Melansir Trading Economics pada Senin (19/10/2026) pukul 15.35 WIB harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 4.172 per ons troi atau menguat 0,15% harian tetapi masih mencatatkan koreksi 3,92% dalam sebulan terakhir.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan harga emas dunia berpotensi melanjutkan koreksi jika belum mampu menembus area resistance US$ 4.217-US$ 4.218 per ons troi dalam jangka pendek.
Baca Juga: Tekanan MSCI Berlanjut, Rupiah Melemah dan IHSG Sentuh Level 2020
“Selama harga belum mampu melewati resistance tersebut, tekanan bearish masih berpotensi mendominasi. Namun, apabila XAUUSD berhasil menembus area itu, prospek pelemahan perlu dievaluasi kembali karena momentum beli dapat menguat,” terang Geraldo dalam risetnya, Senin (19/10/2026).
Geraldo mengatakan, kegagalan harga emas menembus area resistance menjadi sinyal teknikal yang perlu dicermati pelaku pasar. Pada grafik harian, kondisi ini membuka peluang terbentuknya pola ABC Correction yang mengindikasikan potensi penurunan harga.
Jika tekanan jual berlanjut, harga emas yang diperdagangkan melalui pasangan XAUUSD berpotensi menguji area support US$ 4.125–US$ 4.100. Sebaliknya, apabila harga berhasil menembus resistance US$ 4.217–US$ 4.218, prospek pelemahan perlu dievaluasi kembali karena momentum beli berpotensi menguat.
Dari sisi fundamental, pergerakan harga emas masih dipengaruhi oleh dinamika dolar Amerika Serikat (AS), ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta permintaan aset lindung nilai atau safe haven.
Inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sempat mendorong penguatan dolar AS dan menekan harga emas. Penguatan dolar membuat emas relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi membatasi permintaan.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Dekati US$ 110 per Barel, Ini Prospek Saham MEDC
Di sisi lain, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury juga menjadi faktor penting. Penurunan yield obligasi dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat berpotensi menopang harga emas.
"Pasalnya, emas tidak memberikan pendapatan bunga. Ketika daya tarik instrumen berbunga menurun, emas berpotensi menjadi lebih menarik bagi investor," imbuhnya.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga dapat mempengaruhi pergerakan logam mulia. Peningkatan ketegangan di kawasan tersebut berpotensi mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar.
Dengan demikian, harga emas masih menghadapi tarik-menarik sentimen. Penguatan dolar AS dan inflasi yang tinggi berpotensi menekan harga, sedangkan penurunan yield obligasi serta meningkatnya permintaan aset safe haven dapat membatasi koreksi.
Geraldo menyebut, ke depan pelaku pasar perlu mencermati pergerakan dolar AS, yield US Treasury, serta perkembangan kebijakan moneter The Fed untuk membaca arah harga emas selanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













