kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 18.060   26,00   0,14%
  • IDX 4.923   -261,84   -5,05%
  • KOMPAS100 621   -37,02   -5,63%
  • LQ45 480   -28,13   -5,53%
  • ISSI 170   -9,33   -5,20%
  • IDX30 268   -15,36   -5,41%
  • IDXHIDIV20 349   -17,33   -4,73%
  • IDX80 71   -4,20   -5,57%
  • IDXV30 98   -4,16   -4,07%
  • IDXQ30 88   -4,90   -5,27%

Isu MSCI Pukul Pasar Obligasi RI, Yield SUN 10 Tahun Melesat


Senin, 19 Oktober 2026 / 10:22 WIB
Isu MSCI Pukul Pasar Obligasi RI, Yield SUN 10 Tahun Melesat
ILUSTRASI. Kenaikan obligasi acuan bertenor 5 tahun dan 10 tahun sekitar 19 basis poin (bps), yang masing-masing menyentuh 7,23% dan 7,41% pada pekan lalu. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana pemosisian ulang status pasar Indonesia oleh pemeringkat indeks global memicu kekhawatiran pelarian modal asing di pasar keuangan domestik.

Sentimen ini sukses memberikan tekanan jual yang masif di pasar Surat Utang Negara (SUN) hingga turut membuat nilai tukar rupiah terperosok.

Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan memaparkan bahwa rencana MSCI untuk mengklasifikasi ulang Indonesia ke dalam status Standalone Market telah menjadi motor utama munculnya kecemasan atas potensi keluarnya dana asing (foreign outflows) dari pasar domestik.

Tekanan jual yang merata tersebut pada akhirnya mendorong kenaikan tingkat imbal hasil (yield) di seluruh kurva tenor obligasi pemerintah.

Kenaikan paling tajam dibukukan oleh obligasi acuan bertenor 5 tahun dan 10 tahun yang melesat sekitar 19 basis poin (bps), yang masing-masing menyentuh level 7,23% dan 7,41% pada akhir pekan lalu.

Baca Juga: Dian Swastatika (DSSA) Siapkan Dana Rp 1 Triliun untuk Buyback Saham Mulai Hari Ini

Kondisi ini turut membuat selisih (spread) yield tenor 10 tahun Indonesia terhadap US Treasury (UST) semakin melebar hingga mencapai kisaran 232 bps.

Tidak hanya di pasar obligasi, kecemasan akan arus keluar modal asing tersebut juga terus membebani pergerakan mata uang Garuda, yang tercatat melemah 0,41% ke level Rp 18.012 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (16/10/2026).

Padahal, di saat yang sama, pelemahan rupiah ini terjadi ketika Indeks Dolar AS (DXY) sebenarnya sedang turun 0,29% ke posisi 101,7.

Sentimen negatif di dalam negeri ini rupanya juga selaras dengan lesunya kondisi pasar saham global, khususnya bursa Wall Street yang ditutup melemah.

Indeks Nasdaq tercatat anjlok paling dalam hingga 2,15%, disusul oleh pelemahan S&P 500 sebesar 1,09% dan Dow Jones yang turun 0,34%.

Merahnya bursa AS ini sangat dipengaruhi oleh aksi jual di sektor teknologi yang semakin dalam, serta mencuatnya kekhawatiran atas minimnya tingkat pengembalian modal dari investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI).

Di tengah dinamika pasar yang volatilitasnya sedang meningkat, aktivitas transaksi obligasi domestik tampak terkonsentrasi pada seri FR0110.

Seri tersebut berhasil mencatatkan nilai transaksi beli putus (outright) tertinggi yang mencapai Rp 4,97 triliun, lalu diikuti oleh seri FR0111 dengan nilai perputaran mencapai Rp 3,69 triliun.

Baca Juga: Petrindo (CUAN) Gelar Buyback Saham Mulai Senin (19/10), Siapkan Dana Rp 500 Miliar

Menyikapi arah pergerakan instrumen obligasi ke depan, riset ini memberikan sebuah gambaran yang presisi mengenai target tingkat imbal hasil harian di tengah ketidakpastian arus modal asing.

"Mengingat perkembangan terkini di pasar global dan domestik, kami memperkirakan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun akan diperdagangkan di kisaran 7,30%-7,45% untuk hari ini," ungkap Ridwan dalam risetnya, Senin (19/10/2026).

Sebagai opsi untuk memanfaatkan momentum pergerakan aset yang ada pada saat ini, pelaku pasar masih memiliki sejumlah pilihan instrumen surat utang yang menjanjikan.

Beberapa seri Surat Berharga Negara (SBN) yang dinilai cukup atraktif untuk aktivitas trading harian meliputi PBS003, FR0090, FR0064, PBS030, dan FR0101.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×