Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada akhir perdagangan pekan lalu di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap rencana reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
IHSG ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185,10 pada perdagangan Jumat (16/10/2026) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan demikian, indeks saham domestik telah terkoreksi 40,04% secara year to date (YTD) sejak awal 2026.
Tekanan pasar terjadi setelah MSCI memulai konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi MSCI Indonesia Indexes dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market. Keputusan akhir atas usulan tersebut dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027.
Di tengah koreksi tajam tersebut, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar dan sektor telekomunikasi menjadi pemberat utama IHSG. Sementara itu, sejumlah saham justru mampu menguat dan menopang pergerakan indeks.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi empat saham pemberat IHSG pada Jumat lalu.
Masing-masing saham tersebut terkoreksi 14,81% untuk BBCA, 14,84% untuk BBRI, 14,82% untuk BMRI, dan 14,80% untuk TLKM dalam sehari.
Sebaliknya, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD), PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), dan PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) menjadi saham yang menopang IHSG.
BYAN menguat 0,45%, BSWD naik 25%, DNET bertambah 1,81%, sedangkan TRUK melesat 24,81% pada perdagangan Jumat (16/10/2026).
Baca Juga: MSCI Bikin IHSG Anjlok Ke 5.185, Ini Syarat untuk Bisa Kembali ke 6.000 Akhir 2026
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan pergerakan saham saat ini tidak bisa hanya ditinjau dari fundamental perusahaan. Sentimen pasar atau market sentiment, terutama setelah munculnya isu MSCI, turut memengaruhi keputusan investor.
Menurut dia, saham berkapitalisasi besar berpotensi mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap kemungkinan perubahan alokasi dana investor asing. Namun, penguatan saham tertentu juga dapat dipengaruhi faktor sektoral, harga komoditas, dan aksi beli yang bersifat spesifik pada masing-masing emiten.
“Jadi, tidak semua pergerakan saham pada Jumat lalu otomatis berkaitan dengan MSCI. Perlu dilihat juga katalis dan karakteristik masing-masing emiten,” ujarnya kepada Kontan, Sabtu (17/10/2026).
Tonton: China Perketat Ekspor Teknologi Panel Surya, Industri Global Terancam?
Arus Dana Asing Jadi Perhatian Investor
Tekanan pasar saham Indonesia juga tercermin dari aktivitas investor asing. Pada Jumat (16/10/2026), investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp 3,4 triliun di pasar reguler.
Dengan demikian, akumulasi net sell investor asing di pasar reguler sejak awal 2026 mencapai Rp 110,77 triliun.
Elandry menilai, untuk memahami dampak arus dana asing terhadap IHSG, investor perlu mencermati bukan hanya nilai transaksi bersih secara keseluruhan, tetapi juga konsentrasi transaksi pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Menurut dia, isu MSCI berpotensi memengaruhi aliran modal atau capital flow, terutama pada saham yang sensitif terhadap kriteria investabilitas, free float, dan likuiditas.
Meski demikian, diperlukan analisis transaksi asing pada masing-masing saham serta perbandingan dengan pola transaksi sebelumnya untuk memastikan sejauh mana aksi jual tersebut berkaitan dengan sentimen MSCI.
“Namun, untuk memastikan apakah aksi jual asing memang didorong isu MSCI, perlu dilihat data transaksi asing per saham dan dibandingkan dengan pola transaksi sebelumnya,” katanya.
Baca Juga: Harga WTI Melaju Lebih Kencang dari Brent, Permintaan Minyak AS Jadi Penopang
Strategi Rotasi Portofolio
Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, Elandry menilai investor masih memiliki peluang untuk masuk ke pasar saham. Namun, strategi investasi sebaiknya dilakukan secara selektif, bukan agresif dalam mengejar kenaikan harga.
Ia menyarankan investor menghindari pembelian saham yang sudah mengalami kenaikan tajam hanya karena takut kehilangan momentum. Sebaliknya, saham yang terkoreksi juga tidak serta-merta dapat dianggap murah atau layak dibeli.
Investor perlu memprioritaskan emiten dengan fundamental relatif solid, likuiditas memadai, valuasi yang wajar, serta katalis bisnis yang jelas.
“Fokus pada emiten dengan fundamental yang relatif solid, likuiditas memadai, valuasi yang masuk akal, serta katalis bisnis yang jelas,” tuturnya.
Selain itu, investor dapat mempertimbangkan rotasi portofolio ke sektor yang memiliki prospek kinerja dan dukungan arus kas lebih kuat. Kendati demikian, strategi tersebut tetap perlu memperhitungkan valuasi saham dan risiko koreksi lanjutan.
Elandry mengingatkan, ketidakpastian terkait MSCI berpotensi membuat pergerakan IHSG tetap bergejolak dalam waktu dekat. Karena itu, pengelolaan risiko dan strategi pembelian secara bertahap menjadi penting untuk mengantisipasi perubahan sentimen pasar.
“Selama ketidakpastian MSCI belum mereda, volatilitas berpotensi masih tinggi sehingga pengelolaan risiko dan pembelian bertahap menjadi penting,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














