Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah lagi-lagi tak bisa menahan tekanan. Melansir data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,14% ke level Rp 16.886 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2026).
Berbeda arah, rupiah JISDOR Bank Indonesia (BI) justru menguat 0,07% menjadi Rp 16.867 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya Rp 16.879 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global setelah Iran mulai memblokir Selat Hormuz.
Baca Juga: IHSG Merosot 0,69% ke 7.389, Top Losers LQ45: AADI, ITMG dan BUMI, Rabu (11/3)
Menurutnya, langkah tersebut merupakan respons Iran terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel. Pemerintah Iran bahkan menyatakan akan terus menyerang kapal-kapal yang melintas di selat tersebut hingga permusuhan terhadap Republik Islam dihentikan.
"Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak dan gas utama untuk Asia, dengan gangguan pasokan yang berkepanjangan diperkirakan akan memiliki konsekuensi buruk bagi perekonomian yang sangat bergantung pada impor energi," ujar Ibrahim, Rabu (11/3/2026).
Di sisi lain, pasar juga mencermati rilis data inflasi AS. Data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk Februari diperkirakan memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah inflasi dan kebijakan suku bunga di ekonomi terbesar dunia tersebut.
Ibrahim menyebut inflasi utama AS diperkirakan stabil di level 2,4% secara tahunan, sementara inflasi inti diproyeksikan berada di kisaran 2,5%.
Untuk perdagangan Kamis (12/3), Ibrahim menilai pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi oleh sentimen domestik, terutama terkait sorotan sejumlah lembaga internasional terhadap kinerja penerimaan pajak Indonesia.
Beberapa lembaga pemeringkat global seperti Moody’s, S&P, dan Fitch menyoroti isu kredibilitas fiskal pemerintah yang berkaitan dengan kinerja pemungutan pajak.
Baca Juga: Masih Tertekan, Rupiah Melemah ke Rp 16.886 pada Rabu (11/3), Cek Proyeksi Besok
Selain itu, Bank Dunia dalam Country Program Evaluation Report periode fiskal 2013–2023 juga menilai pemerintah belum optimal meningkatkan penerimaan pajak selama satu dekade terakhir.
Menurut Ibrahim, hal tersebut tercermin dari rasio pajak Indonesia yang masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara anggota G20.
“Pada tahun 2025, tax ratio Indonesia turun ke 9,31% terhadap PDB. Rendahnya kepatuhan wajib pajak menjadi salah satu penyebab kinerja rasio pajak belum sesuai ekspektasi,” jelasnya.
Untuk perdagangan Kamis (12/3), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp 16.880 hingga Rp 16.910 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













