kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   18.000   0,66%
  • USD/IDR 17.723   4,00   0,02%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

Harga Minyak Anjlok ke Titik Terendah Tiga Bulan, Pasar Sambut Kesepakatan AS-Iran


Selasa, 16 Juni 2026 / 05:51 WIB
Harga Minyak Anjlok ke Titik Terendah Tiga Bulan, Pasar Sambut Kesepakatan AS-Iran
ILUSTRASI. NORWAY-SWF/ESG (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia jatuh hampir 5% pada perdagangan Senin (15/6/2026) dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa AS  dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Pasar merespons positif kabar tersebut karena kesepakatan itu juga mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi titik krusial bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Harga minyak mentah Brent ditutup turun US$ 4,16 atau 4,76% ke level US$ 83,17 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 4,13 atau 4,87% menjadi US$ 80,75 per barel. 

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok pada Senin (15/6) Pagi, Dipicu Kabar Kesepakatan Damai AS-Iran

Penurunan ini menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak selama perang berlangsung.

Seorang pejabat AS mengatakan MoU tersebut ditandatangani oleh Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Jumat mendatang.

Media Iran, Mehr, melaporkan rancangan kesepakatan itu mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan Iran.

Selain itu, kedua negara ditargetkan menyelesaikan perjanjian damai yang lebih komprehensif dalam 60 hari ke depan.

Ekspektasi pulihnya arus pasokan minyak global menjadi faktor utama yang menekan harga. Wakil Presiden Senior Perdagangan Bok Financial, Dennis Kissler, menilai penurunan harga minyak wajar terjadi karena pasar mulai memperhitungkan potensi lonjakan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Sentimen tersebut juga tercermin dari langkah Iran yang memangkas harga jual resmi minyak mentah ringan untuk pembeli Asia menjadi premi US$ 7,15 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai untuk pengiriman Juli, jauh lebih rendah dibanding premi US$ 13 per barel pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah Sejak Maret, Dipicu Kesepakatan Awal AS-Iran

Lembaga keuangan Citi turut merevisi turun proyeksi harga rata-rata Brent pada paruh kedua 2026. Bank tersebut memperkirakan Brent berada di kisaran US$ 75 per barel pada kuartal III dan US$ 70 per barel pada kuartal IV, seiring harapan normalisasi perdagangan melalui Selat Hormuz.

Meski demikian, pelaku pasar menilai pemulihan pasokan tidak akan terjadi secara instan. Selama lebih dari tiga bulan konflik berlangsung, jutaan barel minyak dan gas dunia tidak dapat mengalir ke pasar akibat penutupan Selat Hormuz.

Kepala Riset Sparta Commodities, Neil Crosby, mengatakan proses pemulihan rantai pasok dan aktivitas pengiriman di kawasan Teluk akan menjadi tantangan tersendiri. 

Menurutnya, sebagian perusahaan pelayaran kemungkinan masih menunggu kepastian keamanan dan perlindungan asuransi sebelum kembali beroperasi penuh.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan lebih dari 14 juta barel per hari produksi minyak global sempat terhenti selama konflik, setara sekitar 14% dari total permintaan dunia. 

Baca Juga: Harga Minyak Turun pada Rabu (29/4) Pagi, Pasar Cermati Perundingan Damai AS-Iran

Kalangan industri memperingatkan bahwa pemulihan produksi dan kapasitas pengolahan ke tingkat sebelum perang bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga bertahun-tahun.

Di sisi lain, sejumlah faktor masih berpotensi menopang harga minyak dalam jangka panjang. Analis UBS Giovanni Staunovo menilai rendahnya persediaan minyak global, lambatnya proses pemulihan produksi, serta kebutuhan pengisian kembali cadangan strategis dapat membatasi penurunan harga lebih lanjut.

Data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak di negara-negara ekonomi utama dunia mendekati level terendah sejak 2003. Sementara Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS turun menjadi 340,3 juta barel, level terendah sejak 1983.

Meski pasar menyambut optimistis prospek perdamaian, sejumlah isu geopolitik masih membayangi. Israel menegaskan akan tetap mempertahankan kehadiran militernya di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza. 

Baca Juga: WTI dan Brent Ambles Hampir 7%, Pasar Sambut Kemajuan Negosiasi AS-Iran

Sementara itu, pembahasan mengenai program nuklir Iran masih akan menjadi agenda utama dalam perundingan lanjutan.

Namun untuk saat ini, fokus pasar tertuju pada kemungkinan kembalinya pasokan minyak Timur Tengah ke pasar global, yang langsung memicu aksi jual besar-besaran dan menyeret harga minyak ke level terendah sejak awal Maret.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×