kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.985   10,00   0,06%
  • IDX 7.337   -248,32   -3,27%
  • KOMPAS100 1.020   -39,17   -3,70%
  • LQ45 751   -25,47   -3,28%
  • ISSI 257   -9,75   -3,65%
  • IDX30 397   -12,77   -3,11%
  • IDXHIDIV20 493   -13,82   -2,73%
  • IDX80 115   -4,19   -3,52%
  • IDXV30 133   -4,17   -3,04%
  • IDXQ30 129   -4,15   -3,13%

Ketidakpastian Geopolitik Meningkat, Begini Prospek Valas Utama


Senin, 09 Maret 2026 / 17:01 WIB
Ketidakpastian Geopolitik Meningkat, Begini Prospek Valas Utama
ILUSTRASI. Kredit Valuta Asing (valas) (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Valuta asing (valas) diproyeksi bergerak secara volatil karena dipengaruhi sentimen geopolitik. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) tengah dalam penguatan ke level 99. 

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan mengatakan, penguatan indeks dolar AS (DXY) ke area 99 saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor suku bunga, tetapi juga meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai safe haven sekaligus mata uang likuiditas global. 

"Dalam konteks tersebut, sebagian besar mata uang utama cenderung berada dalam tekanan terhadap dolar," ujar Brahmantya kepada Kontan, Senin (9/3/2026).

Baca Juga: Emas Bukan Satu-satunya, Ini Pilihan Safe Haven Saat Geopolitik Bergejolak

Brahmantya melihat pairing valas EUR/USD masih menghadapi tekanan karena kawasan euro relatif lebih rentan terhadap shock energi dan pertumbuhan ekonominya masih moderat. Pairing valas GBP/USD berpotensi sedikit lebih stabil dibanding euro karena inflasi Inggris masih cukup tinggi sehingga Bank of England kemungkinan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.

Lalu pairing USD/JPY tetap memiliki kecenderungan naik selama diferensial suku bunga AS dan Jepang masih lebar. Namun semakin tinggi levelnya, risiko intervensi otoritas Jepang juga semakin meningkat sehingga volatilitas pasangan ini berpotensi cukup tinggi.

Berikutnya pairing USD/CHF cenderung bergerak lebih defensif karena franc Swiss masih dianggap sebagai safe haven. Sementara AUD/USD sangat sensitif terhadap sentimen risiko global dan prospek ekonomi China sehingga relatif lebih rentan ketika pasar global berada dalam mode risk-off.

"Secara umum, selama yield obligasi AS tetap relatif tinggi dan ketidakpastian geopolitik masih berlangsung, dolar AS kemungkinan masih mempertahankan keunggulan relatif terhadap sebagian besar mata uang utama," jelas Brahmantya.

Brahmantya menambahkan, ada beberapa faktor utama yang akan mempengaruhi arah pasar valas global ke depan. Pertama adalah perkembangan geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah yang saat ini berpengaruh langsung terhadap harga minyak dan persepsi risiko investor global.

Kedua adalah arah kebijakan moneter bank sentral utama seperti Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England, Bank of Japan, dan Reserve Bank of Australia. Perbedaan arah kebijakan suku bunga antar negara akan terus menjadi pendorong utama pergerakan mata uang.

Baca Juga: Produksi Tembaga dan Emas Melonjak, Amman Mineral (AMMN) Diproyeksi Cetak Laba

Ketiga adalah dinamika pasar obligasi global, khususnya pergerakan yield US Treasury yang sangat berpengaruh terhadap kekuatan dolar. Keempat adalah prospek ekonomi China dan siklus komoditas global, yang sangat penting terutama bagi mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia.

Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX menambahkan, data ekonomi seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan pasar tenaga kerja juga menjadi faktor penting. Sentimen geopolitik global dan dinamika perdagangan internasional juga dapat memicu perubahan risk sentiment di pasar.

Investor disarankan mengikuti tren pasar selama dolar AS masih kuat, terutama pada pasangan seperti EUR/USD dan AUD/USD. Selain itu, penting untuk mencermati rilis data ekonomi utama dan keputusan suku bunga bank sentral yang dapat memicu volatilitas. 

"Penerapan manajemen risiko yang disiplin, termasuk penggunaan stop loss dan diversifikasi posisi, juga menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar valas," ucap Amru.

Brahmantya mengatakan, dalam kondisi pasar saat ini, pendekatan yang lebih relevan bagi investor adalah strategi yang fleksibel dan berbasis tema makro global. Pertama, investor perlu tetap memperhatikan tren penguatan dolar AS selama ketidakpastian geopolitik dan pergerakan yield obligasi AS masih mendukung.

Kedua, fokus pada pasangan mata uang yang memiliki katalis fundamental yang jelas seperti USD/JPY atau AUD/USD, karena pasangan ini bisanya menawarkan volatilitas dan peluang trading yang lebih besar.

Baca Juga: IHSG Tertekan Jelang Libur Lebaran, Analis: Aksi Profit Taking Lebih Masif

Ketiga, investor sebaiknya lebih dalam mode defensif karena pasar valas saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan berita geopolitik dan data ekonomi.

Menurutnya, dalam fase geopolitik seperti sekarang, dolar AS kembali menjadi pusat gravitasi pasar global, selama konflik dan risiko energi belum mereda, mayoritas mata uang utama akan tetap bergerak defensif terhadap dolar.

"Secara keseluruhan, semester pertama 2026 kemungkinan akan ditandai oleh volatilitas yang tinggi di pasar valuta asing, dengan dolar AS masih menjadi pusat dinamika pergerakan pasar global," jelas Brahmantya.

Pada semester I-2026, Amru memproyeksikan valas EUR/USD bergerak di kisaran 1,14 sampai 1,18, pairing valas GBP/USD di kisaran 1,32 sampai 1,36.

Lalu, pairing USD/JPY sekitar 145 sampai 152, pasangan valas USD/CHF di 0,88–0,92, dan pairing AUD/USD dikisaran 0,69–0,72. 

Amru melihat pasangan EUR/USD dan USD/JPY menjadi yang paling menarik dicermati karena likuiditas tinggi serta sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter global.

Sementara Brahmantya melihat pasangan valas yang menarik dicermati saat ini adalah USD/JPY dan AUD/USD. Valas USD/JPY menarik karena mencerminkan kombinasi antara kekuatan dolar, perbedaan suku bunga yang besar antara AS dan Jepang, serta potensi intervensi pemerintah Jepang ketika pelemahan yen dianggap terlalu ekstrem.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak, Rupiah Nyaris ke Rp 17.000

Lalu pairing valas AUD/USD menarik karena sering menjadi indikator sentimen risiko global dan prospek ekonomi China. Jika kondisi global membaik dan permintaan komoditas meningkat, pasangan ini berpotensi mengalami rebound yang cukup signifikan.

"Untuk safe haven lebih ke Franc Swiss (CHF). Namun selama ketidakpastian geopolitik ini dan harga energi masih tinggi, US dolar tetap masih jadi primadona," pungkas Brahmantya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×