Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dinilai berpotensi berlangsung lebih persisten, seiring kombinasi sentimen eksternal dan masih terbatasnya daya tahan fundamental ekonomi domestik.
Rupiah kembali melanjutkan tren pelemahan. Berdasarkan data terbaru Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp 17.903 per dolar AS pada Jumat (25/9/2026), melemah 0,07% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli mengatakan, pelemahan rupiah saat ini tidak semata-mata disebabkan oleh kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Memang, baru-baru ini The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya menjadi 3,75%-4,0% pada FOMC September.
Baca Juga: Rupiah Dekati Level Rp 18.000 Per Dolar AS, Ini Skenario Terburuk hingga Akhir 2026
Namun, terdapat sejumlah tekanan struktural dari dalam negeri yang turut membuat dampak guncangan lebih kuat terhadap rupiah.
“Bukan temporer ya. Sebenarnya ada unsur globalnya, karena The Fed menaikkan Fed Rate. Akhirnya capital banyak yang outflow ke luar karena return di Indonesia tidak cukup. Jadi perbedaan antara yield, The Fed Rate dan BI ini yang bikin banyak capital outflow lah di Indonesia,” ujar Dipo kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, perbedaan tingkat imbal hasil antara aset Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor yang mendorong arus modal keluar. Ketika tingkat imbal hasil aset AS lebih menarik, investor berpotensi mengalihkan dananya ke pasar AS sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah.
Namun, Dipo memandang tekanan tersebut juga mencerminkan persoalan fundamental domestik. Ia menyoroti kondisi current account yang masih tertekan, cadangan devisa yang menurun, serta biaya instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang masih tinggi.
“Tidak bisa dibilang hanya gara-gara Fed Rate naik sepenuhnya. Ini juga refleksi dari tekanan struktural Indonesia. Current account tertekan, cadangan devisa berkurang terus, lalu instrumen moneter seperti SRBI biayanya masih tinggi,” jelasnya.
Baca Juga: Pemberlakuan Cukai MBDK Berpotensi Tekan Kinerja, Ini Deretan Emiten yang Terdampak
"Jadi ada beberapa hal memang karena (sentimen domestik) itu sendiri gitu. Jadi mungkin, kalo saya selalu bilang oh ini sekitar 40% mungkin memang shock dari luar. Tetapi ini bertele-tele di kita gitu, karena memang 60% itu kita kurang kuat. Memang daya tahan ekonomi Indonesia itu sendiri gitu," imbuh Dipo.
Dengan kondisi tersebut, Dipo memperkirakan tekanan terhadap rupiah dapat berlangsung lebih lama. Menurut dia, penguatan daya tahan fundamental maupun perubahan tingkat suku bunga domestik menjadi faktor penting untuk meredam tekanan tersebut.
“Kalau BI Rate tidak naik, kemungkinan besar ini bisa jadi permanen. Capital mengikuti return yang paling tinggi,” katanya.
Dalam jangka pendek, Dipo melihat faktor eksternal masih menjadi sumber guncangan utama bagi rupiah. Namun, kemampuan ekonomi domestik dalam menyerap guncangan tersebut akan menentukan seberapa besar dampaknya terhadap nilai tukar.
Salah satu risiko utama berasal dari arah kebijakan The Fed. Dipo melihat bank sentral AS masih berfokus mengendalikan inflasi sehingga peluang suku bunga AS kembali naik tetap terbuka apabila tekanan inflasi belum mereda.
Baca Juga: Cukai MBDK Mengancam Kinerja Emiten Konsumer, Ini Saran untuk Investor
Selain kebijakan The Fed, harga minyak menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan. Dipo menyebut kenaikan harga minyak hingga kembali berada di atas US$ 100 per barel dapat menambah tekanan terhadap rupiah melalui kebutuhan devisa untuk impor energi.
Di sisi domestik, arah kebijakan BI juga menjadi faktor penting dalam menjaga daya tahan rupiah.
“Faktor luar itu menjadi shock, tetapi masalah rupiah kuat atau tidak itu masalah daya tahan kita. Itu yang paling menentukan,” tegasnya.
Apabila inflasi AS kembali meningkat dan mendorong pasar memperkirakan kebijakan The Fed yang lebih ketat atau suku bunga bertahan tinggi lebih lama, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar.
“Kalau inflasinya belum meredam beberapa bulan ke depan, The Fed kemungkinan akan menaikkan Fed Rate lagi. Akhirnya itu menciptakan capital outflow lagi di Indonesia,” ujarnya.
Terkait proyeksi nilai tukar hingga akhir 2026, Dipo belum memberikan target pasti. Yang jelas, arah rupiah masih sangat bergantung pada sejumlah skenario, terutama apakah The Fed kembali menaikkan suku bunga dan bagaimana respons kebijakan moneter domestik di sisa tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














