Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah tertekan hingga mendekati level psikologis Rp 17.900 per dolar AS di tengah kuatnya tekanan pasar eksternal dan sikap wait and see investor menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Mengutip data Bloomberg pada Selasa (22/9/2026), rupiah spot ditutup pada level Rp 17.884 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (22/9/2026), melemah 0,21% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.847 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.883 per dolar AS, melemah 0,39% dibandingkan posisi hari sebelumnya yang tercatat Rp 17.813 per dolar AS.
Pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa pagi ini tidak terlepas dari penularan tekanan di pasar Non Deliverable Forward (NDF) offshore yang sempat diperdagangkan di atas Rp 17.900.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Pasar Menanti Sinyal BI di Tengah Penguatan Dolar AS
Di saat bersamaan, dolar AS tetap kokoh seiring ekspektasi pasar terhadap kebijakan hawkish The Fed serta yield US Treasury 10 tahun yang bertahan tinggi di kisaran 4,95%–4,97%.
Kondisi ini kian diperberat oleh harga minyak Brent yang masih bertengger di kisaran US$100 per barel, sehingga memicu tingginya kebutuhan devisa untuk impor energi.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, tekanan terhadap mata uang Garuda bukan dipicu oleh satu berita tunggal, melainkan interaksi antara dolar AS yang kuat, kebutuhan valas struktural domestik, serta pelebaran defisit transaksi berjalan.
Ketidakseimbangan antara tingginya permintaan dolar dari importir dan melambatnya pasokan valas finansial membuat rupiah makin sensitif terhadap gejolak luar negeri.
"Pelemahan ini berasal dari interaksi dolar kuat, kebutuhan valas struktural, posisi eksternal yang lebih rapuh, dan kehati-hatian investor sebelum melihat seberapa agresif BI menjaga stabilitas rupiah," kata Syafruddin kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).
Menjelang pengumuman RDG BI pada 22–23 September 2026, pasar berekspektasi bahwa Bank Indonesia tetap mempertahankan BI Rate di level 5,75%.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,69% ke 6.277 pada Selasa (22/9/2026), INDY, WIFI, DEWA Top Losers LQ45
Namun, kredibilitas kebijakan tersebut perlu diperkuat melalui langkah stabilisasi yang nyata di pasar spot, DNDF domestik, maupun NDF offshore untuk mencegah overshooting.
Syafruddin menambahkan, Bank Indonesia sebenarnya masih memiliki amunisi cadangan devisa sebesar US$146,5 miliar yang memberi ruang cukup untuk melakukan intervensi.
"Jika tekanan berkembang menjadi capital outflow yang persisten, ekspektasi inflasi naik, dan rupiah bergerak jauh di atas Rp18.000, kenaikan BI Rate 25 basis poin dapat menjadi opsi berikutnya," terang Syafruddin.
Tekanan terhadap rupiah berpotensi bertahan sepanjang kuartal IV selama tiga kondisi belum berubah: Fed tetap hawkish, minyak bertahan mahal, dan posisi eksternal Indonesia belum membaik.
Syafruddin memproyeksikan, dalam skenario dasar, zona Rp 17.900–Rp 18.000 per dolar AS menjadi area resistensi psikologis sekaligus stress threshold. Level Rp 18.000 masih dapat diuji jika pasar kembali memperkirakan kenaikan Fed, minyak naik lagi, atau arus modal asing berbalik keluar.
Baca Juga: Kompak, Rupiah Jisdor Melemah 0,39% ke Rp 17.883 per Dolar AS pada Selasa (22/9)
Tetapi level tersebut tidak otomatis menjadi keseimbangan baru karena BI masih memiliki cadangan devisa US$146,5 miliar, instrumen intervensi, dan ruang menjaga daya tarik aset rupiah.
Jika diplomasi Timur Tengah menurunkan minyak, yield Treasury mereda, dan arus asing kembali ke SBN atau SRBI, rupiah dapat kembali ke bawah Rp 17.800. Risiko tail scenario berada di atas Rp 18.000, tetapi probabilitasnya sangat bergantung pada shock eksternal.
Karena itu, lebih tepat menggunakan rentang skenario daripada menetapkan satu target kurs akhir tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














