Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Senin (21/9/2026). Pergerakan rupiah turut dipengaruhi sentimen eksternal, terutama perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) serta arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.847 per dolar AS pada Senin (21/9/2026), melemah 0,50% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah berada di level Rp 17.813 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,38% dibandingkan perdagangan Jumat (18/9/2026) yang berada di level Rp 17.745 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Minyak Dibayangi Konflik Timur Tengah, Oversupply Mengintai Pasar
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, indeks dolar AS menguat pada perdagangan Senin.
Pasar masih mencermati perkembangan konflik Iran dan AS di tengah harapan adanya peluang diplomasi yang bertepatan dengan agenda Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini.
"Ketegangan di Timur Tengah tetap tinggi setelah kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran menyatakan telah menyerang lokasi-lokasi sensitif di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menggunakan rudal dan pesawat nirawak, serta menyerang fasilitas Aramco di kota Yanbu," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Serangan terhadap jalur pipa Timur-Barat Saudi Aramco turut mendorong perusahaan energi negara tersebut meningkatkan ekspor melalui Selat Hormuz pada September dan Oktober. Sebelumnya, sebagian pengiriman melalui Yanbu dihentikan.
Selain sentimen geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan The Fed. Sejumlah pejabat bank sentral AS dijadwalkan menyampaikan pernyataan pada pekan ini yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga selanjutnya.
Baca Juga: Perang Timur Tengah Meluas ke Yaman dan Arab Saudi, Ini Dampaknya ke Harga Minyak
"Agenda ekonomi AS minggu ini tergolong tidak terlalu padat, namun sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan untuk berbicara. Pernyataan mereka dapat memberikan petunjuk baru mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan Oktober," ujar Ibrahim.
Dengan sentimen eksternal tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp 17.840-Rp 17.900 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














