kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   23.000   0,89%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Cukai MBDK Mengancam Kinerja Emiten Konsumer, Ini Saran untuk Investor


Minggu, 27 September 2026 / 13:17 WIB
Cukai MBDK Mengancam Kinerja Emiten Konsumer, Ini Saran untuk Investor
ILUSTRASI. Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah menerapkan cukai terhadap minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) berpotensi menekan prospek sejumlah emiten konsumer, khususnya yang memiliki portofolio produk minuman manis dalam porsi besar.

Sebelumnya, rencana pemerintah menerapkan cukai MBDK kembali mengemuka setelah Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (Banggar DPR) memberikan persetujuan atas rencana tersebut untuk diberlakukan pada 2027. Kebijakan ini telah dimasukkan ke dalam target penerimaan cukai pada Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan dampak cukai MBDK cenderung negatif terhadap emiten yang memiliki eksposur besar pada minuman berpemanis, terutama melalui dua jalur, yaitu tekanan terhadap volume penjualan dan potensi penyusutan margin.

Baca Juga: Simak Prospek Kinerja Saham Lapis Dua Saat Pasar Lesu

Menurut Alrich, apabil cukai diteruskan ke konsumen melalui kenaikan harga, ada risiko konsumsi turun karena produk menjadi relatif lebih mahal. Sebaliknya, jika perusahaan menahan sebagian beban cukai untuk menjaga daya beli, margin akan tertekan. Jadi perusahaan menghadapi trade-off antara volume dan margin.

Namun, Alrich menilai dampaknya tidak otomatis sama untuk seluruh emiten. "Perusahaan dengan portofolio produk yang lebih terdiversifikasi, memiliki pricing power, serta mampu melakukan reformulasi ke produk rendah gula atau zero sugar relatif memiliki ruang mitigasi lebih besar," kata Alrich kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).

Emiten yang Terdampak

Alrich berpendapat, MYOR dan SIDO menjadi emiten yang perlu paling dicermati dari sisi eksposur produk minuman berpemanis. MYOR memiliki portofolio minuman seperti Teh Pucuk Harum dan berbagai produk minuman lainnya, sementara SIDO memiliki KukuBima Ener-G! dan produk minuman siap konsumsi lainnya.

"Perkiraan produk yang terekspos MBDK menyumbang lebih dari 15% pendapatan MYOR maupun SIDO, meskipun estimasi tersebut dapat berubah setelah pemerintah menetapkan definisi, tarif, dan threshold gula secara final," tambah Alrich.

Selain itu, ICBP dan CMRY juga berpotensi terdampak. Tetapi dampaknya perlu dilihat lebih selektif berdasarkan komposisi produk yang benar-benar masuk kategori MBDK.

ICBP memiliki diversifikasi bisnis yang jauh lebih luas, sedangkan CMRY memiliki eksposur pada produk minuman/dairy yang perlu dilihat berdasarkan formulasi dan aturan final.

Bagi investor, Alrich menyarankan agar tidak perlu langsung melakukan de-rating terhadap seluruh saham konsumer hanya karena sentimen MBDK. 

Yang lebih penting adalah melihat tiga indikator, mulai dari berapa besar kontribusi produk yang terkena cukai terhadap revenue, seberapa besar pricing power perusahaan, dan apakah perusahaan mampu melakukan reformulasi produk.

Baca Juga: BEI Turunkan Batas Harga Saham Jadi Rp 1, Analis Soroti Risiko Volatilitas

Dalam jangka panjang, saham konsumer dengan jenama kuat, distribusi kuat dan diversifikasi produk memiliki kemampuan lebih baik untuk menyerap perubahan regulasi.

Untuk pilihan saham, MYOR dan ICBP masih dapat dicermati untuk horizon jangka panjang, tetapi dengan katalis dan risiko yang berbeda. 

MYOR memiliki potensi pertumbuhan volume dan pemulihan margin, sementara ICBP memiliki keunggulan dari skala bisnis dan diversifikasi sehingga dampak MBDK relatif lebih tersebar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×