Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan hingga penghujung 2026. Sejumlah faktor global dan domestik membuat peluang rupiah kembali menguji level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan ke depan tetap terbuka.
Pada perdagangan Jumat (25/9/2026), rupiah spot ditutup di level Rp17.902 per dolar AS. Rupiah menguat tipis 0,07% dibandingkan posisi perdagangan sehari sebelumnya sebesar Rp17.916 per dolar AS.
Meski demikian, secara mingguan rupiah masih melemah 0,82% dari posisi Rp17.758 per dolar AS pada Jumat (18/9/2026).
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, prospek Rupiah sampai akhir 2026 masih akan cenderung bergejolak dengan tekanan pelemahan yang tetap cukup besar, tetapi belum mengarah pada pelemahan yang tidak terkendali.
Posisi rupiah pada penutupan 25 September 2026 sudah mendekati level Rp18.000. Secara mingguan, rupiah melemah 0,84%, sementara sejak awal tahun telah terkoreksi sekitar 6,7%.
Di sisi lain, indeks dolar AS naik sekitar 0,9% dalam sepekan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga masih berada pada level tinggi sekitar 5,16%, sedangkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tenor 10 tahun berada di sekitar 7,10%.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Kompak Menguat Sepekan, Arus Dana Institusional Jadi Penopang
“Dengan posisi seperti ini, risiko Rupiah kembali menyentuh bahkan sesaat menembus Rp18.000 cukup tinggi dalam beberapa pekan ke depan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).
Rupiah Rp18.000 Belum Jadi Keseimbangan Baru
Meski peluang rupiah menyentuh Rp18.000 cukup besar, Josua belum melihat level tersebut sebagai keseimbangan baru yang akan bertahan dalam jangka panjang.
Menurut dia, Bank Indonesia (BI) masih memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah. Instrumen tersebut mencakup intervensi valuta asing, pengelolaan imbal hasil instrumen moneter, pemberian insentif lindung nilai, hingga penyesuaian suku bunga apabila diperlukan.
Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat. BI memiliki cadangan devisa sebesar US$146,5 miliar atau setara sekitar 5,4 bulan impor, sehingga masih tersedia bantalan untuk mendukung stabilisasi nilai tukar.
Namun, tekanan terhadap rupiah tetap perlu dicermati, terutama jika sejumlah faktor global muncul secara bersamaan. Risiko tersebut antara lain berasal dari suku bunga AS yang lebih tinggi, imbal hasil obligasi pemerintah AS, harga minyak, serta arus modal asing.
Josua bilang, PIER memperkirakan 16 dari 18 pejabat bank sentral AS masih melihat setidaknya satu kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun, sehingga suku bunga AS berpotensi mencapai 4,25%.
“Kondisi ini mempersempit daya tarik relatif aset rupiah dan meningkatkan risiko perpindahan dana ke aset dolar AS,” tuturnya.
Harga Minyak Jadi Risiko Rupiah
Faktor harga minyak juga menjadi perhatian karena pelemahan harga minyak pada Jumat belum cukup untuk menghilangkan risiko tekanan terhadap rupiah.
Harga minyak Brent masih berada di sekitar US$105 per barel dan telah meningkat sekitar 72% sejak awal tahun. Perundingan antara AS dan Iran memang membuka peluang normalisasi kondisi di Selat Hormuz. Namun, proses negosiasi sebelumnya beberapa kali mengalami kegagalan.
Dengan demikian, penurunan harga minyak saat ini belum dapat dianggap sebagai tren yang permanen.
Baca Juga: Kinerja Emas & Nikel Menguat, Merdeka Copper (MDKA) Kembali Cetak Laba US$ 102 Juta
“Oleh karena itu, berita negatif baru dari Timur Tengah dapat dengan cepat membawa minyak naik kembali dan mendorong Rupiah menguji Rp18.000,” katanya.
Menurut Josua, tekanan dari harga minyak juga memiliki konsekuensi terhadap perekonomian domestik. Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan impor energi sekaligus memberikan tekanan terhadap subsidi.
Pada saat yang sama, pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor dan pembayaran kewajiban dalam valuta asing.
Kombinasi kedua kondisi tersebut berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan beban fiskal serta kebutuhan pembiayaan pemerintah.
“Tekanan Rupiah dan minyak yang tinggi dapat meningkatkan risiko pelebaran kedua defisit tersebut secara bersamaan,” paparnya.
Inflasi Pangan dan Arus Modal Perlu Dicermati
Selain faktor eksternal, perkembangan inflasi pangan menjadi risiko domestik yang perlu diperhatikan hingga awal 2027.
Josua bilang, gangguan cuaca berpotensi mendorong kenaikan harga pangan ketika permintaan domestik meningkat. Kondisi tersebut dapat mempersempit ruang bagi kebijakan moneter.
Karena itu, pelaku pasar tidak hanya akan mencermati inflasi umum. Perkembangan inflasi inti, inflasi pangan, neraca perdagangan, cadangan devisa, kebutuhan penerbitan SBN, serta konsistensi koordinasi kebijakan fiskal dan moneter juga akan menjadi perhatian.
Arus modal asing juga menjadi faktor penting dalam pergerakan rupiah. Indonesia masih mencatat aliran masuk investasi portofolio bersih sekitar US$0,4 miliar pada kuartal III hingga 21 September 2026. Namun, angka tersebut dinilai relatif terbatas jika dibandingkan dengan besarnya gejolak pasar global.
Pada 22 September, investor global tercatat melakukan penjualan bersih sekitar US$110 juta pada obligasi Indonesia. Penjualan saham oleh investor asing juga terjadi pada periode tersebut.
“Artinya, rupiah sekarang cukup sensitif terhadap perubahan arah dana asing,” paparnya.
Proyeksi Rupiah Akhir 2026
Untuk akhir 2026, Josua memperkirakan kisaran dasar rupiah berada di level Rp17.800-Rp18.000 per dolar AS. Sementara itu, rupiah diperkirakan berada di sekitar Rp17.980 per dolar AS pada kuartal IV 2026.
Baca Juga: Kerja Sama dengan Freeport Perkuat Pasokan, Ini Rekomendasi Saham Hartadinata (HRTA)
Dengan proyeksi tersebut, level Rp18.000 menjadi area yang sangat dekat dengan titik tengah perkiraan pergerakan rupiah.
Skenario dasar yang digunakan bukan rupiah terus melemah jauh di atas Rp18.000, melainkan bergerak pada level tinggi dengan volatilitas yang besar. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga terdapat kepastian bahwa siklus kenaikan suku bunga AS mulai mendekati akhir dan harga minyak turun secara lebih permanen.
Oleh karena itu, kata Josua, level Rp18.000 lebih tepat dilihat sebagai batas tekanan yang perlu diperhatikan, bukan angka yang harus dipertahankan dengan segala cara.
Jika rupiah hanya menyentuh Rp18.000 untuk sementara akibat gejolak global kemudian kembali menguat, instrumen stabilisasi BI berupa intervensi valuta asing dan pengelolaan likuiditas dinilai masih memadai.
Sebaliknya, apabila rupiah bertahan di atas Rp18.000 dan diikuti keluarnya modal asing, kenaikan imbal hasil SBN, harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel, serta meningkatnya tekanan inflasi, kebutuhan respons kebijakan akan menjadi lebih besar.
Dalam skenario tersebut, proyeksi Josua telah memasukkan kemungkinan tambahan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% pada kuartal IV 2026.
“Jadi, peluang menyentuh Rp18.000 cukup besar, tetapi peluang bertahan jauh di atas Rp18.000 akan sangat ditentukan oleh minyak, arah suku bunga AS, arus modal, dan terutama kemampuan Indonesia menjaga kepercayaan terhadap ketahanan fiskal serta sektor eksternalnya,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














