kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -1.000   -0,04%
  • USD/IDR 17.876   21,00   0,12%
  • IDX 6.277   -107,68   -1,69%
  • KOMPAS100 821   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,68   -1,37%
  • ISSI 216   -5,69   -2,56%
  • IDX30 347   -5,77   -1,63%
  • IDXHIDIV20 433   -6,98   -1,59%
  • IDX80 94   -1,46   -1,53%
  • IDXV30 119   -2,04   -1,69%
  • IDXQ30 112   -1,71   -1,50%

Fundamental Kokoh, Pasar Cermati Konsistensi Bauran Kebijakan BI di RDG


Selasa, 22 September 2026 / 17:41 WIB
Fundamental Kokoh, Pasar Cermati Konsistensi Bauran Kebijakan BI di RDG
ILUSTRASI. Rupiah Melemah-Petugas menghitung uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dinamika nilai tukar mata uang Garuda yang tertekan hingga mendekati level psikologis anyar lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi global dibandingkan dengan kemunduran kondisi ekonomi dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (22/9/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot bertengger di level Rp 17.884 per dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di posisi Rp 17.883 per dolar AS, tercatat melemah 0,39% dibandingkan dengan posisi hari sebelumnya pada Rp 17.813 per dolar AS.

Pergerakan rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.902 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi dipicu oleh perubahan lanskap moneter global menyusul arah kebijakan The Fed.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Repricing Global, Pasar Uji Kredibilitas Respon BI di RDG

Kondisi ini diperberat oleh tingginya imbal hasil (yield) US Treasury yang mendorong arus modal berbalik ke Amerika Serikat, serta eskalasi geopolitik yang mengerek risiko kenaikan harga minyak mentah dunia.

Meskipun faktor eksternal mendominasi, kondisi fundamental Indonesia dinilai tetap berada dalam koridor yang relatif terjaga. Dari sisi domestik, tantangan utama Bank Indonesia terletak pada upaya menyeimbangkan stabilitas kurs dengan kebutuhan untuk menjaga inflasi serta tingkat pertumbuhan ekonomi.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa pergerakan kurs saat ini menguji bagaimana otoritas moneter merespons tekanan global tanpa mengganggu pemulihan aktivitas bisnis.

"Pelemahan rupiah hingga Rp17.902 pagi ini lebih tepat dilihat sebagai dampak dari perubahan kondisi global setelah kebijakan The Fed, bukan sebagai cerminan memburuknya fundamental domestik," kata Yusuf kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).

Menjelang pengumuman hasil RDG BI pada 22–23 September 2026, fokus pelaku pasar tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga acuan, melainkan pada kejelasan arah bauran kebijakan dan transparansi komunikasi otoritas.

Langkah penyesuaian suku bunga pada periode sebelumnya memberikan modal penyangga yang cukup bagi BI untuk meredam volatilitas tanpa harus mengambil tindakan drastis secara tergesa-gesa.

Menurut Yusuf, efektivitas penstabilan kurs akan bergantung pada optimalisasi berbagai instrumen moneter valas serta dukungan pasokan devisa dari para eksportir nasional.

"Karena itu, yang paling penting saat ini bukan sekadar level rupiah pada satu hari, melainkan kemampuan BI menjaga ekspektasi pasar agar pelemahan tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih persisten," tutur Yusuf.

Menurut Yusuf, tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih berlanjut selama arah kebijakan The Fed dan harga minyak belum memberikan kepastian. Dalam skenario dasar, rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 18.100 per dolar AS sampai akhir tahun.

Jika tekanan eksternal meningkat tajam, terutama akibat kenaikan harga minyak dan kebijakan The Fed yang lebih ketat, pelemahan bisa berlanjut lebih jauh. Namun, pergerakan rupiah tetap perlu dibaca bersama kondisi fundamental dan respons kebijakan domestik.

Baca Juga: Elektrifikasi Armada Jadi Strategi, Simak Prospek Saham BIRD dan WEHA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×