Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah siap menggulirkan sejumlah program stimulus ekonomi demi mengangkat daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi pada kuartal IV-2026. Estimasi anggaran yang bakal digelontorkan mencapai Rp 31 triliun.
Kebijakan stimulus ekonomi tersebut berupa bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan selama tiga bulan ke depan. Bantuan ini ditujukan bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat yang berada di desil 1 hingga desil 4, dengan alokasi anggaran Rp 17,5 triliun.
Kemudian, pemerintah juga berencana membagikan Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp 300 ribu per bulan untuk periode tiga bulan. Dengan target 13,3 juta pekerja, kebutuhan anggarannya hampir mencapai Rp 12 triliun.
Selain itu, pemerintah juga tengah meracik program pembukaan rekening bagi warga negara Indonesia berusia di atas 17 tahun. Sasarannya juga masyarakat desil 1 hingga desil 4. Namun, Kementerian Keuangan masih menghitung besaran anggarannya.
Baca Juga: MIKA Perkuat Pertumbuhan Lewat Pasien Privat dan Ekspansi, Simak Rekomendasi Sahamnya
Lantas, bagaimana dampak pemberian insentif pemerintah terhadap kinerja emiten ke depan?
Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya mengatakan, dampak stimulus ekonomi bagi emiten bakal positif, tetapi terbatas dan hanya berlangsung dalam jangka pendek.
Dari sisi positif, dana mengalir langsung ke kelompok berpendapatan rendah yang nyaris seluruh tambahan penghasilannya dibelanjakan. Waktu penyalurannya pun bertepatan dengan musim Natal dan Tahun Baru (Nataru). Bank Indonesia juga menilai konsumsi rumah tangga tetap terjaga berkat dukungan stimulus fiskal dan membaiknya keyakinan konsumen.
Namun, Hendry menilai ada keterbatasan. Dana Rp 31 triliun hanya setara sekitar 0,1%–0,2% produk domestik bruto (PDB), berdasarkan estimasi kasar. Sifatnya sekali salur (one-off), sehingga belum cukup menggeser laba emiten secara struktural.
Efek stimulus juga berpotensi tertutup oleh kondisi makro. Hendry menyebut The Fed, ECB, dan BoJ sama-sama menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026.
Di dalam negeri, inflasi Agustus naik menjadi 3,19% secara tahunan dari 2,88% pada Juli. Harga minyak Brent turut meningkat ke level US$ 99,3 per barel per 22 September.
Baca Juga: WIKA Optimistis Kinerja Membaik Jika KCIC Diambil Alih Pemerintah
"Artinya, stimulus lebih berfungsi menahan pelemahan daya beli ketimbang mendorong re-rating saham," kata Hendry kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Deretan Emiten yang Kecipratan Berkah
Hendry juga merinci sejumlah emiten yang berpotensi kecipratan berkah dari program stimulus ekonomi tersebut.
1. Bank Himbara: BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, BRIS
Sederet bank tersebut berpeluang menjadi penyalur BSU sekaligus pembuka rekening baru bagi warga desil 1 hingga desil 4. Efeknya, dana murah (CASA) bertambah dan basis nasabah semakin luas. Menurut Hendry, BBRI menjadi yang paling relevan karena nasabahnya didominasi segmen mikro dan menengah ke bawah.
Dari sisi likuiditas, kondisi perbankan juga mendukung. Penempatan kas negara di bank komersial per September 2026 telah mencapai Rp 299 triliun.
2. Consumer Staples: ICBP, INDF, MYOR, UNVR
Produk kebutuhan harian seperti mi instan, bumbu, snack, dan toiletries adalah pos belanja pertama penerima BSU dan bansos. Beras gratis juga membebaskan anggaran rumah tangga untuk produk-produk ini.
3. Ritel Minimarket: AMRT dan MIDI
Gerai minimarket paling dekat dengan konsumen kelas menengah ke bawah. Peluangnya semakin besar berkat dorongan musiman Nataru di kuartal IV.
Konsumsi rokok di segmen bawah cenderung meningkat ketika ada tambahan uang tunai. Menurut Hendry, dampaknya tergolong kecil, tetapi biasanya konsisten.
5. Telekomunikasi: TLKM, ISAT, EXCL
Pulsa dan paket data termasuk belanja prioritas masyarakat berpenghasilan rendah. Meski demikian, manfaat bagi sektor ini bersifat sekunder.
Saran untuk Investor
Hendry mengingatkan agar investor melihat program stimulus sebagai sentimen trading, bukan alasan re-rating. Fokus pada emiten yang fundamentalnya memang sudah solid, dan anggap stimulus sebagai bonus.
"Prioritaskan kondisi makro. Arah rupiah, harga minyak, dan BI Rate lebih menentukan. Sejumlah ekonom bahkan memproyeksikan BI Rate bisa naik ke 6,25% pada akhir 2026, yang kurang baik bagi sektor konsumsi dan properti," jelas Hendry.
Dus, strategi yang bisa dilakukan ialah akumulasi bertahap pada saham big caps yang likuid (bank Himbara, consumer staples) saat harga terkoreksi. Hindari mengejar saham lapis dua yang naik hanya karena narasi stimulus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














