Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup beragam pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Nasdaq Composite menguat, sementara S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average melemah setelah data inflasi menunjukkan kenaikan harga yang lebih moderat dari perkiraan.
Sentimen pasar menguat setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) meningkat 3,4% secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,7%.
Baca Juga: Emiten Jasa Tambang Dapat Panggung Baru Berkat Aturan Baru Kementerian ESDM
Data tersebut meredakan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve atau The Fed pada pertemuan Oktober.
Di pasar derivatif, peluang kenaikan suku bunga sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan The Fed Oktober turun menjadi sekitar 37%, berdasarkan CME FedWatch Tool. Angka tersebut turun dari sekitar 51% pada sesi sebelumnya dan hampir 71% sepekan sebelumnya.
Namun, sentimen positif dari data inflasi tertahan oleh kenaikan yield US Treasury. Yield US Treasury tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, berbalik naik tipis menjelang penutupan perdagangan.
Sementara itu, yield tenor lebih panjang terus meningkat seiring ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang solid.
Selain inflasi, investor juga mencermati revisi data ekonomi AS. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026 direvisi naik menjadi 2,2% secara tahunan, didukung konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat, termasuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Kenaikan harga minyak mentah akibat perang AS-Iran serta tingginya harga diesel sebelumnya memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong kenaikan yield US Treasury.
Pejabat The Fed juga mengisyaratkan kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan harga belum cukup mereda.
Baca Juga: Stok Minyak AS Pekan Lalu Naik ke 427,3 Juta Barel, Simak Rincian Data EIA
Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise Financial mengatakan, investor saat ini mencermati apakah perekonomian AS mampu terus tumbuh di tengah tingkat suku bunga yang lebih tinggi.
"Ketika ekonomi tumbuh, laba perusahaan kuat, dan ada tema pertumbuhan struktural, pasar cenderung mengabaikan suku bunga yang lebih tinggi," kata Saglimbene.
Namun, ia mengingatkan bahwa tingkat suku bunga yang bertahan tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan tekanan pada pasar obligasi, membatasi ketersediaan kredit, dan pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi maupun profitabilitas perusahaan.
Wall Street Catat Kinerja Kuartalan Positif
Pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 443,87 poin atau 0,86% menjadi 50.906,05. S&P 500 melemah 19,30 poin atau 0,25% menjadi 7.651,54.
Sementara itu, Nasdaq Composite naik 63,52 poin atau 0,24% ke level 26.861,06.
Sepanjang September, S&P 500 turun 0,45%, Nasdaq menguat 1,86%, sedangkan Dow Jones terkoreksi 4,29%. Penurunan tersebut mengakhiri tren kenaikan Dow selama lima bulan berturut-turut.
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 0,5%, Nilai Tukar Poundsterling Bangkit Menuju US$ 1,33
Meski demikian, secara kuartalan S&P 500 dan Nasdaq masing-masing mencatat kenaikan untuk kuartal kedua berturut-turut dan menjadi kenaikan kelima dalam enam kuartal terakhir. Dow Jones mencatat penurunan kuartalan untuk kedua kalinya dalam tiga kuartal.
Saham-saham megacap dan perusahaan bertumbuh cenderung menguat. Microsoft, Apple, dan Nvidia menjadi penopang indeks sektor teknologi S&P 500 yang naik 0,6% dan menjadi sektor dengan kinerja terbaik pada perdagangan tersebut.
Namun, sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah.
Data Ketenagakerjaan Jadi Perhatian
Investor juga mencermati perkembangan pasar tenaga kerja menjelang laporan ketenagakerjaan pemerintah AS pada Jumat.
Laporan ADP National Employment menunjukkan, perusahaan swasta menambah 90.000 pekerjaan pada September, setelah kenaikan 36.000 pekerjaan pada Agustus yang direvisi lebih rendah.
Data tersebut menjadi salah satu indikator yang akan diperhatikan pasar menjelang laporan payrolls pemerintah AS. Perkembangan pasar tenaga kerja menjadi faktor penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Baca Juga: Pasokan Timur Tengah Pulih, Harga Minyak WTI Tetap Bertahan di Atas US$ 90
Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan bank sentral tetap berkomitmen menurunkan inflasi tanpa mengganggu pasar tenaga kerja. Menurutnya, tekanan harga masih berada pada level yang terlalu tinggi dalam waktu yang terlalu lama.
Di antara saham yang bergerak signifikan, Hewlett Packard Enterprise (HPE) naik 3,9% setelah menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan jangka panjang untuk bisnis jaringan serta mengumumkan kesepakatan senilai US$1,2 miliar dengan Vultr.
Sementara itu, saham Moderna (MRNA) turun 5,3% setelah Citigroup menurunkan rekomendasi saham perusahaan bioteknologi tersebut menjadi "sell" dari sebelumnya "neutral".
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














