Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) masih punya ruang untuk mengejar target pertumbuhan kinerja hingga akhir 2026. Penguatan layanan berkompleksitas tinggi dan kontribusi pasien privat menjadi penopang, sementara ekspansi rumah sakit baru disiapkan untuk menambah kapasitas layanan perseroan.
Pada semester I-2026, MIKA membukukan pendapatan sekitar Rp 2,7 triliun, tumbuh 8% secara tahunan. Laba bersih tercatat Rp 684 miliar atau meningkat 6,9% secara tahunan.
Pendapatan dari layanan berkompleksitas tinggi bahkan tumbuh 28,6% menjadi Rp 767 miliar, dengan kontribusinya naik menjadi 27,7% dari total pendapatan, dibandingkan 23,2% pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: WIKA Optimistis Kinerja Membaik Jika KCIC Diambil Alih Pemerintah
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengatakan, pertumbuhan MIKA masih berpeluang berlanjut hingga akhir tahun, meski diperkirakan tumbuh secara moderat.
"Ruang pertumbuhan tetap ada terutama dari peningkatan pendapatan per pasien, bertambahnya kontribusi pasien privat, serta layanan dengan kompleksitas lebih tinggi. Namun, saat ini belum terlihat adanya katalis sektoral yang cukup kuat untuk mendorong lonjakan volume pasien secara signifikan," ujar Ekky kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Sejalan dengan itu, porsi pendapatan MIKA dari pasien privat telah mencapai 90% pada semester I-2026, naik dari 88% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan dari pasien JKN turun 11,4% YoY.
Analis Phillip Sekuritas, Helen Vincentia menyebut, kenaikan kontribusi layanan berkompleksitas tinggi menjadi perkembangan positif bagi bauran pendapatan MIKA.
Menurut dia, pertumbuhan segmen tersebut dapat menopang kualitas pendapatan dan profil laba perseroan dalam jangka panjang.
"Kontribusi yang lebih besar dari layanan berkompleksitas tinggi seharusnya mendukung bauran pendapatan yang secara struktural lebih berkualitas dan tetap positif bagi profil laba MIKA dalam jangka panjang," tulis Helen dalam risetnya pada (28/8/2026).
Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan tersebut masih dibayangi tekanan pada margin. Helen mencatat gross margin MIKA pada semester I-2026 sebesar 53,4%, turun dari 54,7% pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut terutama berkaitan dengan meningkatnya penggunaan obat spesialis, implan, dan bahan habis pakai seiring dengan meningkatnya penanganan pasien dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi.
Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Minta Restu Restrukturisasi Surat Utang Rp 10,2 Triliun pada 2026
Manajemen MIKA tetap mempertahankan panduan pertumbuhan pendapatan tahun 2026 di kisaran low- hingga mid-teens, dengan target margin EBITDA 38,8%-39,5%. Perseroan juga tengah menambah kapasitas melalui pembukaan rumah sakit baru. Rumah sakit di BSD dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026, sedangkan rumah sakit di Jawa Timur ditargetkan buka pada kuartal I-2027.
Ekky mengatakan, kontribusi rumah sakit baru terhadap kinerja 2026 kemungkinan masih terbatas karena waktu operasionalnya relatif singkat. Dampak yang lebih besar diperkirakan baru terlihat setelah tingkat utilisasi tempat tidur, basis pasien, serta jaringan dokter dan rujukan mulai terbentuk.
"Ekspansi rumah sakit baru akan menjadi katalis positif, tetapi kontribusinya terhadap kinerja 2026 kemungkinan belum signifikan karena sebagian kapasitas baru mulai beroperasi menjelang akhir tahun," kata Ekky.
Sementara itu, Helen melihat ekspansi tersebut dapat memperkuat kapasitas MIKA sekaligus mendukung pertumbuhan volume pasien mulai semester II-2026 dan berlanjut ke tahun-tahun berikutnya.
Perseroan juga menyiapkan pusat kedokteran nuklir di Jawa Timur serta platform onkologi terintegrasi yang mencakup PET/CT, SPECT/CT, radioterapi, kemoterapi, terapi radionuklida, dan theranostics.
Untuk sahamnya, Ekky merekomendasikan buy on weakness dengan kisaran Rp 1.400-Rp 1.500 sebagai level support MIKA.
Sementara area Rp 1.500-Rp 1.700 dapat menjadi zona akumulasi. Untuk target jangka pendek, MIKA berpeluang menuju Rp 2.000, sedangkan target fundamental berada di kisaran Rp 2.200-Rp 2.300.
Adapun Helen mempertahankan rekomendasi buy untuk MIKA dengan target harga Rp 2.500 per saham. Target tersebut menggunakan pendekatan discounted cash flow (DCF).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













