Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,83% ke level 6.071,89 pada perdagangan Rabu (30/9/2026).
Tekanan pasar saham domestik masih berasal dari pelemahan rupiah, tingginya yield US Treasury, serta ketidakpastian geopolitik.
Investor asing juga masih mencatatkan aksi jual. Pada perdagangan di pasar reguler, investor asing membukukan net sell sebesar Rp1,56 triliun.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham AMMN, INDF, dan BBRI untuk Kamis (1/10)
Meski demikian, penurunan harga minyak ke sekitar US$96 per barel mulai memberikan ruang bagi sentimen pasar.
Selain itu, komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams yang menyebut belum ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat turut meredakan tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter The Fed.
Perhatian investor selanjutnya akan beralih ke sejumlah data ekonomi domestik yang dijadwalkan dirilis pada Kamis (1/10/2026), terutama inflasi September dan neraca perdagangan Agustus.
Konsensus Reuters memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatat surplus sekitar US$630 juta. Sementara itu, inflasi September diproyeksikan meningkat tipis.
Data tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk melihat perkembangan tekanan eksternal, daya beli domestik, serta ruang kebijakan Bank Indonesia (BI) di tengah posisi rupiah yang masih berada pada level lemah.
Baca Juga: Yield US Treasury 10 Tahun Naik 53 Bps pada September, Terbesar Sejak 2022
IHSG Berpotensi Konsolidasi
Mengutip Sajian Pagi Menu Trading (SAPA MENTARI) BRI Danareksa Sekuritas, Kamis (1/10/2026), secara teknikal IHSG masih berada dalam tekanan, tetapi mulai memasuki area support Fibonacci di 6.019.
"MACD masih bearish, sehingga rebound belum terkonfirmasi. Indeks berpotensi konsolidasi di area 6.000–6.200," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Level 6.019 menjadi area penting yang perlu dipertahankan IHSG. Sementara itu, support berikutnya berada di 5.854.
Di sisi atas, breakout pada area 6.185–6.240 diperlukan untuk membuka ruang bagi technical rebound lebih lanjut.
Dari pasar saham global, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu. Dow Jones Industrial Average turun 0,86% ke level 50.906,05. S&P 500 melemah 0,25% menjadi 7.651,54, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,24% ke 26.861,06.
Baca Juga: Harga Saham Naik 34%, Analis Tetap Rekomendasi Beli Saham Tambang Batubara BUMN Ini
Rekomendasi Saham
Untuk perdagangan Kamis, BRI Danareksa Sekuritas memberikan sejumlah rekomendasi saham berdasarkan analisis teknikal.
Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dinilai berpotensi melanjutkan penguatan setelah rebound dari support 7.445 dan MACD mulai membaik. Selama bertahan di atas level tersebut, harga berpeluang menuju 7.800–8.000.
BRI Danareksa Sekuritas menetapkan area buy EMAS pada 7.600–7.700, dengan resistance 7.800 dan 8.000 serta stop loss di bawah 7.400.
Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) juga menjadi perhatian setelah melonjak 7,55% ke level 27.075 dan menembus resistance 26.400 dengan volume perdagangan yang meningkat.
Harga UNTR kembali berada di atas MA20 di 25.381, sementara MACD mulai berbalik menguat. Selama mampu bertahan di atas 26.400, harga berpeluang menguji resistance Fibonacci di 27.377–27.856.
Area buy UNTR berada pada 26.500–27.000, dengan resistance 27.350 dan 27.850 serta stop loss di bawah 26.400.
Baca Juga: Peta Persaingan Kontraktor Tambang Berubah, PTRO hingga DOID Masuk Radar
Selanjutnya, PT Indo Acidatama Tbk (SRSN) masih mempertahankan tren bullish di atas MA20 114 dan area breakout 108–116. MACD tetap positif sehingga bias perdagangan masih bullish.
SRSN berada di level 134, dengan target terdekat 137–143 dan peluang menuju 150 jika berhasil menembus level 143. Area buy berada di 124–134, dengan resistance 137 dan 143 serta stop loss di bawah 120.
Sementara itu, PT Medialoka Hermina Tbk (HEAL) berada dalam tren bearish setelah turun ke 600 dan menembus support 640 serta MA20 di 658.
Momentum jual masih dominan dengan MACD negatif dan histogram yang melemah. Kondisi tersebut membuka potensi koreksi menuju area Fibonacci 593–563.
BRI Danareksa Sekuritas memasukkan HEAL dalam trading plan sell, dengan harga terakhir 600 dan support berikutnya di 593–563.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














