Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) sama-sama tertekan pada perdagangan Rabu (30/9/2026), bertepatan dengan pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) kedua emiten.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham TLKM ditutup turun 3,38% ke level Rp2.290 per saham. Sementara itu, tekanan lebih dalam terjadi pada saham VISI yang anjlok 14,40% ke level Rp1.040 per saham.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 1,61 Triliun, Cek Saham yang Banyak Dijual di Akhir September 2026
Padahal, kedua emiten membawa agenda strategis dalam RUPSLB. TLKM membahas persetujuan pemisahan tahap kedua bisnis Wholesale Fiber Connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia serta perubahan susunan pengurus perseroan.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, RUPSLB TLKM menyetujui pengangkatan Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama menggantikan Dian Siswarini. Perseroan juga melakukan penyegaran pada sejumlah posisi direksi lainnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, aksi korporasi TLKM lebih merupakan bagian dari restrukturisasi strategis dibandingkan perubahan fundamental dalam jangka pendek.
Menurut dia, prospek kinerja TLKM masih ditopang oleh pemulihan bisnis seluler, efisiensi operasional, serta ekspansi infrastruktur digital dan pusat data.
Pada semester I-2026, pendapatan TLKM tumbuh 3,9% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp75,9 triliun. EBITDA meningkat 3,8% yoy menjadi Rp37,5 triliun, sedangkan laba bersih yang telah dinormalisasi tumbuh 6,2% yoy.
"Karena itu, pasca-RUPSLB, katalis utama saham TLKM adalah potensi unlock value dari penataan aset fiber, peningkatan efisiensi, dan monetisasi infrastruktur, meskipun investor tetap perlu mencermati eksekusi spin-off dan perkembangan persaingan industri telekomunikasi," ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: United Tractors (UNTR) Ubah Jadwal Dividen Interim, Ini Alasannya
VISI Transformasi ke Bisnis Kesehatan
Sementara itu, RUPSLB VISI membahas rencana transformasi bisnis dengan mengubah fokus perseroan menjadi holding di sektor kesehatan.
VISI berencana mengakuisisi 72,91% saham PT Hasna Medika Bakti Cirebon (HMBC) dengan nilai transaksi sekitar Rp319 miliar.
Transaksi tersebut terdiri atas setoran modal Rp255 miliar, pembelian saham eksisting Rp31 miliar, serta konversi utang sebesar Rp33 miliar.
Baca Juga: Pendapatan Tumbuh 56%, VKTR Perluas Bisnis Kendaraan Listrik lewat e-MaaS
Untuk mendukung ekspansi dan memperkuat permodalan, VISI juga berencana melakukan private placement maksimal 307,5 juta saham baru atau setara 10% dari modal disetor perseroan.
Nafan menilai, prospek VISI lebih bergantung pada keberhasilan transformasi bisnis dibandingkan TLKM. Sektor kesehatan berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perseroan, tetapi ekspansi tersebut juga membawa sejumlah risiko.
Risiko tersebut antara lain terkait skala akuisisi dibandingkan ekuitas perseroan serta potensi dilusi akibat private placement.
Terlebih, kinerja bisnis organik VISI masih menghadapi tekanan. Pada semester I-2026, pendapatan perseroan turun 11,04% yoy menjadi Rp139,03 miliar. VISI juga membukukan rugi bersih sekitar Rp4,17 miliar.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Konsolidasi 6.000–6.200 Kamis (1/10), Simak Saham Pilihan Ini
"Jadi, pasca-RUPSLB, pergerakan VISI kemungkinan lebih sensitif terhadap ekspektasi pasar atas transformasi ke healthcare dibanding kinerja bisnis lamanya; investor perlu melihat realisasi akuisisi, kontribusi HMBC terhadap pendapatan/laba, struktur pendanaan, serta dampak dilusi sebelum dapat menilai keberlanjutan kenaikan fundamental," ujar Nafan.
Terkait prospek kedua saham, Nafan memberikan rekomendasi add untuk TLKM dengan target harga Rp3.030 per saham. Rekomendasi add juga diberikan untuk VISI dengan target harga Rp1.380 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














