kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.147   50,00   0,28%
  • IDX 5.373   -66,16   -1,22%
  • KOMPAS100 696   -6,74   -0,96%
  • LQ45 542   -4,89   -0,89%
  • ISSI 183   -3,13   -1,68%
  • IDX30 304   -2,05   -0,67%
  • IDXHIDIV20 401   -1,94   -0,48%
  • IDX80 80   -0,68   -0,84%
  • IDXV30 111   -0,79   -0,70%
  • IDXQ30 101   -0,36   -0,35%

Simak Prospek Kinerja Emiten Grup Salim yang Kompak Buyback Saham Rp 2,25 Triliun


Senin, 26 Oktober 2026 / 19:30 WIB
Simak Prospek Kinerja Emiten Grup Salim yang Kompak Buyback Saham Rp 2,25 Triliun
ILUSTRASI. Produk mi instan produksi Indofood dipajang di Pasar Ritel Modern (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten Grup Salim kompak melakukan pembelian kembali alias buyback saham dengan total nilai Rp 2,25 triliun.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) berencana melakukan buyback saham dengan total nilai maksimal masing-masing Rp 750 miliar. 

Buyback saham ketiganya masing-masing berlangsung dari tanggal 26 Oktober 2026 hingga 31 Desember 2026. 

INDF, ICBP, dan LSIP masing-masing akan menganggarkan sejumlah dana yang berasal dari kas internal perseroan dengan jumlah maksimum pembelian sebanyak-banyaknya sebesar Rp 750 miliar.

Baca Juga: Indofood Sukses (INDF) Buyback Saham Mulai Senin (26/10), Siapkan Dana Rp 750 Miliar

“Jumlah tersebut belum termasuk biaya transaksi, biaya perantara perdagangan dan biaya lainnya yang terkait rencana pembelian kembali saham,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi tanggal 23 Oktober 2026.

Manajemen bilang, jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak lebih dari 20% dari modal disetor masing-masing emiten, dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan free float yang berlaku.

Pelaksanaan rencana pembelian kembali saham itu diakui tidak akan menyebabkan penurunan pendapatan para emiten atau memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan usahanya.

Lebih lanjut, rencana pembelian kembali saham akan menyebabkan pengalihan aset dari semula berupa kas menjadi saham treasuri.

“Perseroan telah memiliki tingkat permodalan dan arus kas yang memadai untuk mendukung inisiatif dan kegiatan usahanya, dan pelaksanaan rencana pembelian kembali saham diperkirakan tidak berdampak negatif terhadap posisi keuangan,” tuturnya.

Baca Juga: Indofood (INDF) Raih Pendapatan Rp 65,53 Triliun pada Semester I-2026

Melansir RTI, harga saham INDF ada di level Rp 6.675 per saham pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Senin (26/10). ICBP ada di level Rp 5.975 per saham dan LSIP Rp 1.455 per saham.

Sejak awal tahun, saham INDF dan ICBP masing-masing  sudah turun 1,48% dan 27,13% year to date (YTD). Sementara, saham LSIP naik 21,76% YTD.

Tim Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia mengatakan, aksi buyback saham ini menarik lantaran dijalankan saat harga tertekan dan dananya berasal dari kas internal.

Jumlah tersebut untuk INDF dan ICBP setara sekitar 1,1%-1,3% kapitalisasi pasar. Dampak ke laba per saham sekitar 1%, fungsinya lebih ke penopang harga. 

Untuk LSIP, porsi Rp 750 miliar jauh lebih besar lantaran kapitalisasi pasarnya kecil, sehingga dampaknya lebih terasa. 

Di sisi lain, free float saham INDF dan LSIP masih relatif aman. Sementara, ICBP cukup ketat, sebab  INDF memegang sekitar 80% saham, dengan free float hanya sekitar 19%. 

Baca Juga: Indofood CBP (ICBP) Siapkan Buyback Saham Rp 750 Miliar, Laba per Saham Potensi Naik

Jika dilakukan buyback saham sebesar 1%, free float ICBP memang masih di atas batas 12,5%. Namun, ruangnya terbatas mengingat batas free float maksimal 15%.

“Arus kas ICBP juga tidak terganggu, karena nilainya kecil dibanding kas grup. Risiko ICBP yang lebih besar justru utang dolar Amerika Serikat (AS) dari akuisisi Pinehill saat rupiah lemah,” ujarnya kepada Kontan, Senin (26/10/2026).

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, aksi ini sangat menarik, terutama dilakukan oleh Grup Salim yang memiliki fundamental kuat, diversifikasi bisnis lengkap, dan dominasi dari hulu hingga ke hilir.

“Dengan penurunan harga yang cukup dalam, valuasi perusahaan tersebut semakin menarik,” ujarnya kepada Kontan, Senin.

Harga pasti buyback saham ketiga emiten Grup Salim itu belum diumumkan. 

Namun menurut hitungan Nico, buyback saham INDF menarik jika dilakukan di rentang harga Rp 6.300 – Rp 6.800 per saham.

Baca Juga: Laba INDF Susut 19% Jadi Rp 4,72 Triliun di Semester I, Ini Penjelasan Manajemen

Buyback ICBP menarik jika dilakukan di rentang Rp 5.500 - Rp 6.100 per saham dan LSIP menarik di rentang Rp 1.350 - Rp 1.500 per saham. Hingga tahun 2027, prospek ketiga emiten tersebut dinilai masih menarik.

Tim Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia berpandangan, kinerja INDF dan ICBP ditopang permintaan mi instan dan makanan pokok yang stabil, serta ekspansi Timur Tengah dan  Afrika.

Sentimen positif pendorong kinerja mereka ke depan adalah konsumsi defensif, valuasi murah, dividen, buyback, dan bobot IHSG yang naik setelah saham di dalam list high shareholding concentration (HSC) keluar.

Sementara, sentimen negatifnya berasal dari pelemahan rupiah yang menaikkan biaya gandum dan beban utang dolar AS, harga CPO yang mahal sehingga menekan margin minyak goreng, dan daya beli lemah. 

“Di sisi lain, LSIP diuntungkan oleh harga CPO tinggi, kebijakan B50, dan bea impor India yang turun. Risikonya berasal El Niño dan pungutan ekspor CPO,” katanya.

Nico berpandangan, operasional INDF cenderung stabil dan tangguh karena model bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir, misalnya saja mulai dari brand tepung terigu Bogasari, segmen perkebunan, dan distribusi produk. 

Baca Juga: Indofood (INDF) Tebar Dividen Rp 290 per Saham, Segini Potensi Yieldnya

Prospek ICBP kuat dengan pasar mi instan yang dominan serta kontribusi penjualan luar negeri. 

Sedangkan prospek LSIP didorong produktivitas kebun yang terjaga baik didukung kondisi neraca kas bersih tanpa utang bank. 

“Kebijakan energi nabati domestik, yaitu mandatori biodiesel B40–B50, bisa menyerap pasokan CPO, pasokan sawit dunia yang terbatas. Potensi dividennya juga tinggi,” tuturnya.

Nico menyarankan investor untuk mencermati saham INDF, ICBP, dan LSIP dengan target harga masing-masing Rp 8.520 per saham, Rp 9.670 per saham, dan Rp 1.930 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×