CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.529   -129,00   -0,73%
  • IDX 6.678   -8,24   -0,12%
  • KOMPAS100 877   0,02   0,00%
  • LQ45 664   -1,33   -0,20%
  • ISSI 234   0,36   0,15%
  • IDX30 369   -2,14   -0,58%
  • IDXHIDIV20 457   -1,61   -0,35%
  • IDX80 100   -0,15   -0,15%
  • IDXV30 127   -0,14   -0,11%
  • IDXQ30 118   -0,39   -0,33%

Setoran Dividen BUMN Naik ke Danantara, Ruang Ekspansi Emiten Tertekan?


Rabu, 09 September 2026 / 20:08 WIB
Setoran Dividen BUMN Naik ke Danantara, Ruang Ekspansi Emiten Tertekan?
ILUSTRASI. Pembagian dividen BUMN terus meningkat berpotensi menggerus fleksibilitas keuangan perusahaan, terutama yang buruh investasi & belanja modal besar (KONTAN/Syamsul Ashar)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembagian dividen BUMN yang terus meningkat berpotensi menggerus fleksibilitas keuangan perusahaan negara, terutama emiten dengan kebutuhan investasi dan belanja modal besar di sektor padat modal.

Senior Credit Analyst Bloomberg Intelligence Mary Ellen Olson mengatakan, profil kredit standalone BUMN menghadapi risiko dari meningkatnya penarikan kas pemegang saham, ketidakpastian tata kelola, serta tekanan peringkat kredit berdaulat Indonesia.

Menurutnya, pembayaran dividen BUMN mencapai sekitar Rp 140 triliun pada 2025 setelah melonjak 62% dan diperkirakan kembali meningkat 43% menjadi sekitar Rp 200 triliun pada 2026.

Arus kas dividen yang disapu ke Danantara mengatakan, paling berpotensi menekan perusahaan portofolio berkualitas tinggi dan berperingkat investment grade, terutama Pertamina, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) serta kelompok MIND ID.

Baca Juga: Ekonom: Penguatan Rupiah Saat Ini Repricing Teknikal, Bukan Perbaikan Fundamental

Mary memperingatkan, pengurasan kas secara langsung meningkatkan kerentanan BUMN terhadap volatilitas keuangan sepanjang siklus bisnis dan dapat membuat valuasi obligasinya lebih berfluktuasi. 

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata bilang, TLKM menjadi contoh paling jelas ketika kebijakan pembagian dividen mulai berpotensi mengurangi ruang perusahaan untuk membiayai investasi menggunakan laba sendiri.

Pada tahun buku 2025, TLKM membagikan dividen sekitar Rp22 triliun, lebih besar daripada laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp17,81 triliun. Payout ratio pun mencapai 123,5%.

“Investor pada akhirnya menilai bukan hanya berapa banyak cash yang dibagikan hari ini, tetapi juga kemampuan perusahaan menghasilkan earnings dan free cash flow yang lebih besar di masa depan,” katanya kepada Kontan, Rabu (9/9/2026) 

Liza bilang, payout di atas 100% tidak ideal jika menjadi kebiasaan, karena TLKM masih membutuhkan belanja modal untuk fiber, jaringan seluler, pusat data dan infrastruktur digital.

Jika dividen tinggi mengorbankan proyek dengan tingkat pengembalian investasi menarik, meningkatkan leverage atau mendorong monetisasi aset, dividend yield besar justru dapat menjadi negatif bagi penciptaan nilai jangka panjang.

Untuk emiten yang masih agresif berinvestasi, Liza lebih memilih laba ditahan lebih besar, terutama TLKM, INCO dan ANTM. BBRI juga perlu diperhatikan apabila pertumbuhan kredit tetap tinggi.

Menurutnya, kebutuhan investasi MIND ID masih besar, termasuk proyek baterai, aluminium, tembaga dan hilirisasi. Grup tersebut menargetkan investasi sekitar Rp 19,9 triliun untuk eksplorasi, logistik dan proyek hilirisasi.

Baca Juga: Haji Isam Dikabarkan Ajukan Tawaran US$ 3 Miliar untuk Akuisisi BYAN, Ini Kata Analis

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menimpali, Pertamina, TLKM dan kelompok MIND ID sebagai BUMN yang paling perlu dicermati karena ketiganya memiliki kebutuhan investasi besar.

“Intinya, jangan sampai perusahaan harus membayar dividen tinggi hari ini tetapi kemudian berutang lebih besar untuk membiayai investasi yang sebenarnya bisa dibiayai dari laba ditahan,” katanya.

Budi menyebut, Pertamina paling sensitif karena kebutuhan belanja modal migas tinggi, sementara arus kas juga dipengaruhi harga minyak, kurs serta waktu pembayaran subsidi dan kompensasi pemerintah.

Di sektor hulu, Pertamina melalui PHE merealisasikan investasi sekitar US$ 4,52 miliar pada 2025. Besarnya kebutuhan investasi tersebut membuat kemampuan mempertahankan laba menjadi penting untuk menjaga fleksibilitas pendanaan.

Di sisi lain, Budi menilai PTBA yang bisnisnya relatif matang dan menghasilkan arus kas besar memiliki ruang membayar dividen lebih tinggi, selama kondisi siklus harga batubara tetap mendukung.

Menurutnya, tidak ada satu tingkat payout ratio yang cocok untuk seluruh BUMN. Untuk telekomunikasi dan infrastruktur, kisaran 50%–70% dinilai lebih sehat, sedangkan energi dengan capex besar sekitar 30%–50%.

 

Untuk pertambangan yang sudah matang, payout ratio 60%–80% masih dapat dipertimbangkan sesuai siklus komoditas. Sementara bank dapat berada sekitar 75% selama permodalan dan pertumbuhan kredit mendukung.

Budi lebih memilih Pertamina, TLKM, ANTM dan INCO mempertahankan laba lebih besar karena masih berada dalam fase investasi dan hilirisasi. MIND ID juga mengembangkan proyek baterai, aluminium, tembaga dan lainnya.

Target setoran dividen BUMN Rp 200 triliun pada 2026 memang positif bagi penerimaan Danantara, tetapi manfaat tersebut perlu dibandingkan dengan potensi hilangnya ruang investasi produktif di tingkat perusahaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×