CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.529   -129,00   -0,73%
  • IDX 6.678   -8,24   -0,12%
  • KOMPAS100 877   0,02   0,00%
  • LQ45 664   -1,33   -0,20%
  • ISSI 234   0,36   0,15%
  • IDX30 369   -2,14   -0,58%
  • IDXHIDIV20 457   -1,61   -0,35%
  • IDX80 100   -0,15   -0,15%
  • IDXV30 127   -0,14   -0,11%
  • IDXQ30 118   -0,39   -0,33%

Ekonom: Penguatan Rupiah Saat Ini Repricing Teknikal, Bukan Perbaikan Fundamental


Rabu, 09 September 2026 / 19:41 WIB
Ekonom: Penguatan Rupiah Saat Ini Repricing Teknikal, Bukan Perbaikan Fundamental
ILUSTRASI. Penguatan rupiah hingga menyentuh kisaran Rp 17.500 per dolar AS disebut belum mencerminkan perbaikan fundamental mata uang Garuda. (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penguatan rupiah hingga menyentuh kisaran Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) disebut belum mencerminkan perbaikan fundamental mata uang Garuda.

Melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Rabu (9/9/2026), kurs rupiah di pasar spot menguat Rp 121 atau 0,69% secara harian menjadi Rp 17.511 per dolar AS.

Ini adalah penguatan rupiah paling tajam sejak 11 Agustus 2026 lalu. Rupiah juga telah menguat dalam lima hari perdagangan beruntun. Rupiah mencapai posisi terkuat rupiah sejak 14 Mei 2026 atau hampir empat bulan terakhir.

Menariknya, level rupiah hari ini sekaligus mendekati asumsi nilai tukar dalam Rancangan APBN (RAPBN) 2027 sebesar Rp 17.500 per dolar AS. Pemerintah menetapkan asumsi tersebut sebagai salah satu dasar ekonomi makro RAPBN 2027.

Baca Juga: Dua Sentimen Menguji Saham GOTO, Intip Prospek dan Rekomendasi Sahamnya

Kendati demikian, Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky mengungkapkan, penguatan rupiah kali ini lebih disebabkan oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY). Asal tahu saja, indeks dolar AS saat ini ada di level 98,6 atau melemah 0,97% dalam sepekan terakhir.

Menurut Yanuar, terdapat spekulasi di konsensus analis AS bahwa suku bunga The Federal Reserve (The Fed) berpotensi kembali naik dalam pertemuan FOMC September, sehingga turut memengaruhi pergerakan dolar AS.

Namun, pelemahan DXY tersebut belum menunjukkan bahwa fundamental rupiah telah membaik secara signifikan.

“Jadi saat ini teknikal penguatan rupiah karena indeks dolar AS melemah tapi dikompensasi oleh yield yang naik, jadi inflow-nya bukan fundamental, tapi repricing teknikal trading saja,” ujar Yanuar kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan periode sebelumnya ketika Bank Indonesia (BI) dinilai masih menahan pelemahan yield SBN. Kini, ruang repricing pada yield SBN telah terbuka sehingga perubahan harga aset rupiah lebih banyak mencerminkan penyesuaian teknikal pasar.

Lebih lanjut Yanuar mengingatkan, penguatan rupiah saat ini tidak dibaca sebagai perubahan tren jangka panjang.

Ia menyoroti bahwa meskipun DXY kembali berada di sekitar level 98, rupiah justru masih menunjukkan kecenderungan melemah. Secara historis, sejak 2011 rupiah memang berada dalam tren pelemahan terhadap dolar AS.

Karena itu, Yanuar memperkirakan rupiah masih berpotensi kembali melanjutkan tren pelemahan. Menurut dia, risiko tersebut terutama berasal dari tingginya volatilitas pasar global.

“Ya, akan melemah lagi, karena isu besarnya kan tingginya global volatility, kalau tidak mau melemah terlalu dalam kan yield adjustment harganya, dan itu kalau terjadi crash liquidity ya akan jadi faktor kuncinya,” tegas Yanuar.

Baca Juga: Total Bangun (TOTL) Kebanjiran Proyek Data Center, Pipeline Tembus Rp 17,2 Triliun

Dengan posisi rupiah yang kini berada di sekitar level asumsi RAPBN 2027, Yanuar berpandangan kondisi tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai “kemenangan” atau perubahan fundamental.

Sebagai informasi, pemerintah menetapkan asumsi nilai tukar RAPBN 2027 sebesar Rp 17.500 per dolar AS, dibandingkan asumsi APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS.

Yanuar menegaskan, penguatan rupiah saat ini masih berlangsung di tengah risiko global yang besar. Ia memperingatkan potensi stagflasi global serta gejolak pasar obligasi pemerintah (government bond market) global dapat kembali memberikan tekanan terhadap pasar keuangan domestik.

"Tidak bisa momen gini dianggap sebagai kemenangan. Ini masih panjang, global stagflasi dan gejolak global government bond market. Momen sesat seperti ini tidak bisa dipandang sesaat," tegasnya.

Terakhir Yanuar menekankan, tantangannya masih tetap besar. Gejolak di pasar surat utang global perlu menjadi perhatian serius karena dapat jadi ancaman bagi kondisi fiskal dan moneter Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×