Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju apresiasi nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh kisaran Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya memberikan ruang napas bagi perekonomian domestik, tetapi juga membuat postur anggaran pemerintah makin realistis sejalan dengan asumsi makro RAPBN 2027.
Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (9/9/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,69% atau naik 121,00 poin ke level Rp 17.511 per dolar AS.
Tren positif ini turut tercermin pada performa nilai tukar rupiah terhadap jajaran mata uang mitra dagang utama Indonesia di pasar spot.
Baca Juga: Menilik Dampak Buyback Obligasi AS terhadap SBN
Merujuk pada data Bloomberg per 9 September 2026, dalam sebulan terakhir rupiah mencatatkan kenaikan return terhadap Dolar AS sebesar 2,08%, Yuan Tiongkok (CNY) 1,54%, Dolar Singapura (SGD) 0,97%, Ringgit Malaysia (MYR) 1,59%, dan Rupee India (INR) 1,99%, meskipun terdepresiasi tipis 0,78% terhadap Yen Jepang (JPY).
Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengungkapkan bahwa penguatan rupiah didorong oleh perpaduan pelonggaran tekanan indeks dolar AS (DXY) dan penguatan mata uang regional seperti yen Jepang pasca-ekspektasi pengetatan kebijakan Bank of Japan (BoJ).
Dari dalam negeri, penguatan ditopang oleh posisi cadangan devisa Agustus yang melesat ke level US$ 146,5 miliar serta efektivitas instrumen moneter Bank Indonesia seperti SRBI.
Namun, Rahma menekankan bahwa pergerakan rupiah saat ini masih berada dalam fase pemulihan terbatas atau konsolidasi di rentang sempit Rp 17.400–Rp 17.650 per dolar AS, bukan merupakan fase bullish struktural.
Pasalnya, penguatan yang terjadi masih didorong oleh faktor temporer dan dibayangi oleh ancaman kenaikan inflasi, fluktuasi harga minyak mentah dunia akibat ketegangan di Selat Hormuz, serta arus modal portofolio yang bergerak dua arah.
Kembalinya posisi rupiah ke kisaran Rp 17.500 per dolar AS, yang sejalan dengan titik tengah atau batas atas asumsi makro RAPBN 2027 di angka Rp 17.500 per dolar AS, membawa efek kompleks bagi perekonomian nasional.
Dari sisi anggaran, posisi ini membuat proyeksi belanja subsidi energi dan penerimaan SDA tidak mengalami deviasi ekstrem dari perencanaan awal.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Menguat, Simak Saham Pilihan untuk Kamis (10/9)
Di sisi lain, level ini membawa implikasi ganda bagi sektor riil dan moneter. Industri yang bergantung pada komponen luar negeri seperti farmasi dan manufaktur berisiko menghadapi kenaikan struktur biaya (imported inflation), sementara beban pembayaran pokok dan kupon utang valas pemerintah serta korporasi menuntut alokasi rupiah yang lebih besar.
Sebaliknya, sektor komoditas ekspor seperti CPO dan produk nikel diuntungkan oleh konversi nilai valas yang lebih tinggi.
"Tekanan nilai tukar ini akan memaksa Bank Indonesia untuk tetap mempertahankan sikap kebijakan moneter yang hati-hati dan cenderung ketat (hawkish) guna menjaga stabilitas eksternal, mengendalikan aliran modal asing, serta meredam rambatan inflasi domestik," kata Rahma kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).
Untuk prospek hingga akhir tahun, Rahma memperkirakan pergerakan rupiah di pasar akan menghadapi volatilitas yang cukup ketat dengan target berada di kisaran Rp 17.250 hingga Rp 17.900 per dolar AS.
"Pandangan saya memperkirakan ruang gerak rupiah di paruh kedua tahun ini masih akan menghadapi tekanan volatil yang cukup ketat akibat sentimen eksternal," tutup Rahma.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













