Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) membukukan kinerja operasional yang positif sepanjang semester I-2026. Hal ini menjadi sinyal bahwa SMGR mampu bertahan di tengah kondisi pasar semen dalam negeri yang masih menantang.
Sebagai informasi, SMGR mencatat volume penjualan semen yang tumbuh 5,6% year on year (yoy) menjadi 18,27 juta ton pada semester I-2026, dibandingkan periode sebelumnya yaitu 17,3 juta ton.
Corporate Secretary Semen Indonesia Vita Mahreyni mengatakan, kinerja penjualan SMGR yang terus bertumbuh pada semester I-2026 tercapai melalui strategi penajaman fokus pada pengelolaan pemasaran dan penjualan, serta memastikan ketersediaan dan memperluas jangkauan pasar.
Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Catat Laba Rp 80 Miliar di Kuartal I, Cek Rekomendasi Sahamnya
Kinerja penjualan yang positif juga merupakan bukti konsistensi SMGR menjalankan transformasi, khususnya dalam penguatan pengelolaan pasar mikro.
"Pencapaian ini juga sejalan dengan komitmen BP BUMN dan Danantara sehingga transformasi BUMN membuahkan hasil nyata dan menciptakan nilai untuk memberikan manfaat bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Vita dalam keterangan resmi, Selasa (28/7/2026).
Vita melanjutkan, SMGR terus berupaya meningkatkan kinerja penjualan retail yang menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan. Selama ini, penjualan retail berkontribusi sebesar 70% dari total pendapatan SMGR.
Untuk ke depannya, SMGR akan menyasar pasar potensial di Jawa Barat. Langkah strategis SMGR untuk menggarap pasar di Tanah Pasundan tersebut tak lepas dari permintaan semen di Jawa Barat yang naik 7,5% yoy pada semester I-2026.
Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, kenaikan volume penjualan tersebut menunjukkan adanya perbaikan permintaan dan keberhasilan SMGR mempertahankan pangsa pasar.
Baca Juga: Laba Semen Indonesia (SMGR) Melesat 88,7% Jadi Rp 80 Miliar di Kuartal I-2026
Namun, kenaikan volume belum tentu berbanding lurus dengan pertumbuhan kinerja keuangan pada semester I-2026.
Dari sisi pendapatan, peluang SMGR untuk mencatatkan pertumbuhan masih terbuka karena volume yang lebih tinggi akan menopang pendapatan. Akan tetapi, besarnya pertumbuhan pendapatan juga dipengaruhi oleh harga jual rata-rata atau average selling price (ASP).
"Jika persaingan harga di industri semen masih ketat akibat kondisi oversupply, maka kenaikan volume dapat diimbangi oleh tekanan terhadap ASP," jelas dia, Selasa (28/7).
Sementara terkait laba bersih, faktor penentu tidak hanya berasal dari volume penjualan, melainkan juga efisiensi biaya produksi, harga energi terutama batubara dan minyak, biaya distribusi, serta beban keuangan.
Apabila SMGR mampu mempertahankan efisiensi operasional dan menjaga margin melalui optimalisasi biaya, maka pertumbuhan volume penjualan semen berpotensi diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba.
Sebaliknya, jika tekanan harga jual masih besar, maka pertumbuhan laba bisa lebih terbatas dibandingkan pertumbuhan volume penjualan.
Nafan melanjutkan, prospek kinerja SMGR pada semester II-2026 masih cukup konstruktif. Secara historis, emiten semen seperti SMGR sering memperoleh dukungan dari percepatan realisasi belanja infrastruktur pemerintah, pembangunan proyek swasta, kawasan industri, maupun sektor properti pada semester kedua.
Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Putuskan Tebar Seluruh Laba 2025 Sebagai Dividen
Selain itu, keberadaan dermaga khusus ekspor di Tuban yang sudah beroperasi juga menjadi katalis positif dalam jangka menengah hingga panjang.
"Fasilitas ini dapat meningkatkan efisiensi logistik, mempercepat proses pengiriman, menekan biaya distribusi, memperluas akses ke pasar ekspor, dan meningkatkan utilisasi kapasitas produksi," terang dia.













