Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah masih punya ruang untuk menguat hingga akhir tahun. Namun, lajunya diperkirakan tidak akan mulus karena pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan tren yang kuat.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.611 per dolar AS pada Jumat (11/9/2026). Rupiah melemah 64 poin atau 0,36% dibandingkan hari sebelumnya. Namun, dibandingkan posisi Jumat pekan lalu di level Rp 17.642 per dolar AS, rupiah masih menguat 31 poin atau 0,18%.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) di platform Trading Economics berada di level 99,122. DXY naik 0,07% secara harian, tetapi masih terkoreksi 0,05% secara mingguan.
Baca Juga: El Nino & B50 Bayangi Prospek Saham CPO, Cek Rekomendasi: DSNG, LSIP, TAPG, AALI
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy mengatakan, penguatan rupiah dari level di atas Rp 18.200 per dolar AS pada pertengahan tahun memang cukup signifikan. Namun, penguatan tersebut belum menjadi tanda bahwa rupiah akan terus melaju.
“Ruang untuk melanjutkan penguatan sampai akhir tahun tampaknya masih terbatas dan pergerakannya tidak akan linier,” kata Yusuf kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).
Menurut Yusuf, pelemahan dolar AS saat ini masih lebih mencerminkan penyesuaian jangka pendek menjelang data inflasi dan keputusan The Fed. DXY juga masih relatif kuat, sementara imbal hasil surat utang AS belum turun secara meyakinkan.
Harga minyak yang tinggi turut menjadi tantangan bagi rupiah karena dapat menekan neraca perdagangan Indonesia.
Dari dalam negeri, kebutuhan dolar juga masih cukup besar seiring defisit transaksi berjalan yang telah lebih dari 3% terhadap PDB pada kuartal II.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$100, Rupiah Dibayangi Tekanan di Awal Pekan Senin (14/8)
Meski begitu, rupiah masih berpeluang menguat jika sentimen global membaik. Pelemahan dolar AS yang lebih dalam, penurunan harga minyak dan arus modal masuk yang konsisten dapat memberikan ruang bagi mata uang Garuda untuk bergerak lebih kuat.
“Dengan kondisi tersebut, penguatan beberapa ratus poin dari level sekarang masih realistis jika sentimen global membaik, tetapi kembali ke sekitar Rp 16.500 seperti asumsi awal APBN akan cukup sulit,” ujar Yusuf.
Untuk akhir 2026, Yusuf memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp 17.750-Rp 18.000 per dolar AS. Rupiah berpeluang bergerak di bawah Rp 17.500 jika dolar AS melemah lebih dalam, harga minyak turun signifikan dan arus modal masuk berlangsung konsisten.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














