CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.604.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Arus Modal Asing Belum Deras, Otot Rupiah Masih Ditopang SBN


Minggu, 13 September 2026 / 16:26 WIB
Arus Modal Asing Belum Deras, Otot Rupiah Masih Ditopang SBN
ILUSTRASI. Rupiah masih punya ruang untuk menguat, meski dukungan dari arus modal asing belum terlalu besar. (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah masih punya ruang untuk menguat, meski dukungan dari arus modal asing belum terlalu besar. Permintaan investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) menjadi salah satu penopang penguatan mata uang Garuda belakangan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.611 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (11/9/2026). Rupiah melemah 64 poin atau 0,36% dibandingkan hari sebelumnya. Namun, secara mingguan rupiah masih menguat 31 poin atau 0,18% dari posisi Rp 17.642 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, arus modal asing pada September belum terlalu kuat. Aliran dana masuk ke SBN tercatat sekitar US$ 0,45 miliar dan saham US$ 0,11 miliar.

Di sisi lain, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) justru mencatat arus keluar sekitar US$ 0,43 miliar. Alhasil, arus modal asing bersih pada September hanya sekitar US$ 0,13 miliar.

Baca Juga: Logam Mulia Terkoreksi, Analis Sarankan Akumulasi Bertahap

"Ini menunjukkan bahwa penguatan rupiah belakangan bukan semata-mata karena banjir modal asing, tetapi cukup besar dipengaruhi pelemahan dolar secara global dan membaiknya permintaan terhadap SBN," kata Josua kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).

Kepemilikan SBN oleh investor nonresiden juga terus meningkat. Dari sekitar Rp 892 triliun pada akhir Juli, kepemilikan tersebut naik menjadi Rp 908 triliun pada akhir Agustus dan sekitar Rp 909 triliun pada awal September.

Perkembangan tersebut menunjukkan minat investor asing terhadap SBN masih terjaga. Namun, Josua melihat penguatan rupiah ke depan perlu ditopang oleh aliran dana yang lebih stabil, termasuk dari investasi langsung.

"Jadi, penguatan rupiah akan lebih sehat apabila dana asing semakin banyak masuk ke SBN dan investasi langsung, bukan hanya berpindah masuk-keluar dari SRBI," ujar Josua.

Baca Juga: Respons Waskita Karya (WSKT)Terkait Peningkatan Pemeringkatan ke idB dari Pefindo

Untuk akhir 2026, Josua memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp 17.500-Rp 17.900 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 17.700-Rp 17.800 per dolar AS.

Adapun level Rp 17.300-Rp 17.500 menjadi area penguatan yang cukup kuat. Rupiah berpeluang masuk ke kisaran tersebut jika bank sentral AS tidak menaikkan suku bunga secara agresif, euro terus menguat, harga minyak mereda dan arus dana asing ke SBN tetap bertahan.

Dengan begitu, derasnya aliran dana ke SBN masih menjadi salah satu tumpuan rupiah untuk melanjutkan penguatan hingga akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×