Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan diperkirakan masih bergerak fluktuatif.
Pelaku pasar cenderung menahan posisi (wait and see) menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16–17 September 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada perdagangan Jumat (11/9) ditutup melemah 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.611 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Minggu 13 September 2026 Stabil di Rp2,604 Juta per Gram
Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah melemah 75 poin atau 0,43% ke posisi Rp17.611 per dolar AS, dari Rp17.536 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kekhawatiran eskalasi konflik Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia menembus US$100 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Di pasar domestik, sentimen eksternal juga memicu aksi jual bersih investor asing di pasar saham.
Rahma memperkirakan kombinasi sentimen global dan domestik masih akan membatasi penguatan rupiah pada perdagangan Senin (14/9/2026).
Baca Juga: Fitch Pertahankan Rating Samator Indo Gas (AGII) di Level A, Outlook Stabil
"Fokus utama investor global tertuju pada rilis data ekonomi penutup AS serta arah kebijakan suku bunga The Fed jelang Rapat Dewan Gubernur (FOMC) pada 16–17 September 2026," ujar Rahma kepada Kontan, Jumat (11/9).
Selain pergerakan indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil US Treasury, permintaan valuta asing (valas) dari badan usaha milik negara (BUMN) energi untuk kebutuhan impor pada awal pekan juga berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah.
Meski demikian, Rahma menilai tekanan terhadap rupiah berpeluang diredam oleh langkah stabilisasi Bank Indonesia (BI).
"Langkah-langkah stabilisasi lanjutan dari Bank Indonesia, termasuk melalui instrumen operasi moneter seperti OPT valas, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta pemanfaatan cadangan devisa yang berada di posisi solid US$146,5 miliar itu akan terus diandalkan untuk meredam volatilitas tajam," kata Rahma.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Rahma memproyeksikan rupiah pada awal pekan akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.580 hingga Rp17.680 per dolar AS.
Baca Juga: Prospek RAJA dan RATU Diprediksi Cerah, Cek Rekomendasi Sahamnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














