kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.590.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Rupiah Tertekan, Potensi Sentuh Rp 18.000 per Dolar AS Masih Besar


Jumat, 25 September 2026 / 17:32 WIB
Rupiah Tertekan, Potensi Sentuh Rp 18.000 per Dolar AS Masih Besar
ILUSTRASI. INDONESIA-ECONOMY-CURRENCY (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi rupiah untuk kembali menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) masih terbuka di akhir tahun 2026.

Hari ini, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.902 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (25/9/2026), menguat 0,07% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.916 per dolar AS. Namun, dalam sepekan rupiah melemah 0,82% dari posisi Rp 17.758 per dolar AS pada Jumat (18/9/2026) lalu.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, prospek Rupiah sampai akhir 2026 masih akan cenderung bergejolak dengan tekanan pelemahan yang tetap cukup besar, tetapi belum mengarah pada pelemahan yang tidak terkendali. 

Baca Juga: Sinar Mas Agro (SMAR) Siapkan Dana Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 958 Miliar

Posisi penutupan pada 25 September 2026 sudah sangat dekat dengan Rp18.000, setelah secara mingguan Rupiah melemah 0,84% dan sejak awal tahun melemah sekitar 6,7%. 

Pada saat yang sama, indeks dolar AS naik sekitar 0,9% dalam sepekan dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun masih sangat tinggi di sekitar 5,16%. Sementara, imbal hasil SBN Indonesia tenor 10 tahun sekitar 7,10%. 

“Dengan posisi seperti ini, risiko Rupiah kembali menyentuh bahkan sesaat menembus Rp18.000 cukup tinggi dalam beberapa pekan ke depan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).

Namun, Josua belum melihat Rp18.000 per dolar AS sebagai keseimbangan baru yang pasti bertahan. Sebab, Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang stabilisasi melalui intervensi valuta asing, pengelolaan imbal hasil instrumen moneter, insentif lindung nilai, serta apabila diperlukan penyesuaian kembali suku bunga. 

Bank Indonesia juga masih memiliki cadangan devisa US$ 146,5 miliar atau sekitar 5,4 bulan impor, sehingga bantalan stabilisasi masih cukup memadai. 

Risiko terbesar tetap berasal dari kombinasi suku bunga Amerika Serikat yang lebih tinggi, imbal hasil obligasi AS yang tinggi, harga minyak, dan arus modal. 

Josua bilang, PIER memperkirakan 16 dari 18 pejabat bank sentral AS masih melihat setidaknya satu kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun, sehingga suku bunga AS berpotensi mencapai 4,25%. 

“Kondisi ini mempersempit daya tarik relatif aset rupiah dan meningkatkan risiko perpindahan dana ke aset dolar AS,” tuturnya.

Selain itu, penurunan harga minyak pada Jumat memang membantu Rupiah, tetapi belum berarti risiko energi selesai. 

Minyak Brent masih berada sekitar US$ 105 per barel dan bahkan telah naik sekitar 72% sejak awal tahun. Perundingan AS-Iran memang membuka peluang normalisasi Selat Hormuz, tetapi proses negosiasi sebelumnya beberapa kali gagal, sehingga penurunan minyak saat ini belum dapat dianggap permanen. 

“Oleh karena itu, berita negatif baru dari Timur Tengah dapat dengan cepat membawa minyak naik kembali dan mendorong Rupiah menguji Rp18.000,” katanya.

Di luar faktor global, yang paling perlu diwaspadai justru perubahan persepsi terhadap ketahanan fiskal dan transaksi berjalan Indonesia. 

Harga minyak yang bertahan tinggi akan meningkatkan kebutuhan impor energi dan tekanan subsidi. Sementara, Rupiah yang lebih lemah menambah biaya impor dan pembayaran kewajiban valuta asing. 

Baca Juga: Bitcoin Mulai Pulih, Ini Proyeksi Harga BTC dan Ethereum hingga Akhir 2026

Kombinasi tersebut dapat memperlebar defisit transaksi berjalan sekaligus menambah beban fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah. 

“Tekanan Rupiah dan minyak yang tinggi dapat meningkatkan risiko pelebaran kedua defisit tersebut secara bersamaan,” paparnya.

Josua bilang, faktor domestik berikutnya adalah inflasi pangan. Risiko gangguan cuaca hingga awal 2027 dapat menaikkan harga pangan pada saat permintaan domestik juga meningkat, sehingga ruang kebijakan moneter menjadi lebih sempit. 

Oleh karena itu, pasar tidak hanya akan melihat angka inflasi umum, tetapi juga perkembangan inflasi inti, pangan, neraca perdagangan, cadangan devisa, kebutuhan penerbitan SBN, dan konsistensi koordinasi kebijakan fiskal serta moneter.

Lebih lanjut, arus modal juga harus diperhatikan secara lebih hati-hati. Walaupun Indonesia masih mencatat aliran masuk investasi portofolio bersih sekitar US$ 0,4 miliar pada kuartal III hingga 21 September 2026. Jumlah tersebut relatif terbatas dibandingkan besarnya gejolak pasar global. 

Bahkan, pada 22 September investor global tercatat menjual bersih sekitar US$ 110 juta obligasi Indonesia dan terdapat penjualan saham oleh investor asing. 

“Artinya, rupiah sekarang cukup sensitif terhadap perubahan arah dana asing,” paparnya.

Untuk akhir 2026, kisaran dasar Rupiah Rp17.800 – Rp18.000 per dolar AS. Rupiah diperkirakan berkisar sekitar Rp17.980 per dolar AS pada kuartal IV 2026, sehingga titik tengah operasional kami memang berada sangat dekat Rp18.000. 

Skenario dasarnya bukan Rupiah terus melemah jauh melewati Rp18.000, melainkan bergerak di area tinggi dengan volatilitas yang besar sampai terdapat kepastian bahwa kenaikan suku bunga AS sudah mendekati akhir dan harga minyak turun secara lebih permanen.

Oleh karena itu, kata Josua, Rp18.000 sebaiknya dilihat sebagai batas tekanan yang perlu diwaspadai, bukan angka yang harus dipertahankan dengan segala cara. 

Jika Rupiah hanya menyentuh Rp18.000 sesaat akibat gejolak global lalu kembali menguat, respons melalui intervensi valuta asing dan pengelolaan likuiditas masih memadai. 

Namun, bila Rupiah bertahan di atas Rp18.000, diikuti keluarnya modal asing, kenaikan imbal hasil SBN, harga minyak tetap di atas US$ 100, serta tekanan inflasi meningkat, maka kebutuhan respons kebijakan menjadi jauh lebih kuat. 

Dalam skenario tersebut, proyeksi kami memang sudah memasukkan kemungkinan tambahan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% pada kuartal IV 2026. 

“Jadi, peluang menyentuh Rp18.000 cukup besar, tetapi peluang bertahan jauh di atas Rp18.000 akan sangat ditentukan oleh minyak, arah suku bunga AS, arus modal, dan terutama kemampuan Indonesia menjaga kepercayaan terhadap ketahanan fiskal serta sektor eksternalnya,” ungkapnya.

Baca Juga: BEI Gelar International Capital Market Summit 2026, Hadirkan Pelaku Pasar Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×