kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.590.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.939   0,00   0,00%
  • IDX 6.299   -76,31   -1,20%
  • KOMPAS100 819   -14,09   -1,69%
  • LQ45 623   -9,92   -1,57%
  • ISSI 219   -2,18   -0,99%
  • IDX30 345   -5,37   -1,53%
  • IDXHIDIV20 429   -4,96   -1,14%
  • IDX80 93   -1,50   -1,58%
  • IDXV30 117   -1,48   -1,24%
  • IDXQ30 111   -1,66   -1,48%

Koreksi Rupiah Ancam Emiten yang Menanggung Utang Dolar AS


Jumat, 25 September 2026 / 07:44 WIB
Koreksi Rupiah Ancam Emiten yang Menanggung Utang Dolar AS
ILUSTRASI. ICBP jadi salah satu emiten yang menanggung utang dolar AS dalam jumlah besar (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti, Rashif Usman | Editor: Dimas Andi Shadewo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan yang menghantam rupiah kembali datang. Tekanan itu mendentangkan lonceng bahaya bagi emiten-emiten yang mempunyai kewajiban dalam dolar Amerika Serikat (AS).

Kamis (24/9), kurs rupiah di pasar spot melemah 0,55% ke level Rp 17.916 per dolar AS, hampir kembali menyentuh level Rp 18.000 per dolar, seperti yang terjadi pada Juni 2026 lalu. Padahal, awal September ini, rupiah sempat bertengger di kisaran Rp 17.500 per dolar AS.

Tren koreksi mata uang Garuda menjadi perhatian bagi sejumlah emiten. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) misalnya, memiliki liabilitas dalam dolar AS senilai US$ 2,94 miliar per semester I-2026 (lihat tabel). Dari angka itu, ICBP memiliki utang dengan porsi jatuh tempo dalam waktu satu tahun sebesar US$ 2,75 miliar.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan menilai, anjloknya nilai tukar rupiah memberi dampak langsung terhadap emiten yang memiliki utang atau biaya dalam dolar, tapi mayoritas pendapatan berdenominasi rupiah. "Beban bunga, cicilan, bahan baku, dan biaya operasional otomatis akan meningkat," ujar dia, Kamis (24/9).

Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang menimpali, besaran utang dalam dolar AS perlu dilihat bersama dengan pendapatan, aset dan beban dalam dolar AS. Juga intrumen hedging emiten.

Dia memberikan ilustrasi, jika kurs rupiah melemah dari Rp 17.000 ke Rp 18.000 per dolar AS, maka nilai utang US$ 1 miliar yang tidak mendapatkan lindung nilai (hedging) akan meningkat sekitar Rp 1 triliun jika dikonversi ke rupiah. Namun, kenaikan nilai utang ini tentu tidak serta merta menandakan emiten mengalami kerugian kas,.

Dampaknya bisa diimbangi oleh pendapatan, aset, dan arus kas dolar AS. "Jika utang tersebut belum jatuh tempo, sebagian dampaknya dapat berupa unrealised foreign-exchange loss," katanya, Kamis (20/9).

Untuk meminimalisir risiko kurs, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama menjelaskan, opsi mengurangi porsi utang dolar AS dan hedging dapat ditempuh emiten yang mayoritas pendapatan dalam rupiah.

Namun, emiten tetap memungkinkan untuk menjaga porsi utang dalam dolar AS jika memiliki pendapatan dari mata uang greenback yang cukup. "Pindah ke mata uang yang lain juga belum tentu lebih baik, kalau sumber pendapatannya tidak ikut berubah," imbuh dia.

Dalam jangka pendek, emiten yang menanggung utang dolar AS tetap harus waspada. Terlebih, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong memprediksi, rupiah masih akan bergerak volatil di kisaran Rp 17.750–Rp 18.000 per dolar AS. Level Rp 18.000 tetap menjadi resistance psikologis yang cukup kuat.

Kevin menyarankan agar para investor menimbang kemampuan emiten dalam membayar kewajiban mereka. Jadi jangan semata melihat besaran utang emiten dalam denominasi dolar AS.

Investor juga perlu lebih berhati-hati pada emiten yang punya utang dolar AS besar, pendapatan mayoritas dalam rupiah, jatuh tempo dekat, tetapi dengan kemampuan hedging terbatas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×