kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.939   104,00   0,58%
  • IDX 6.299   -76,31   -1,20%
  • KOMPAS100 819   -14,09   -1,69%
  • LQ45 623   -9,92   -1,57%
  • ISSI 219   -2,18   -0,99%
  • IDX30 345   -5,37   -1,53%
  • IDXHIDIV20 429   -4,96   -1,14%
  • IDX80 93   -1,50   -1,58%
  • IDXV30 117   -1,48   -1,24%
  • IDXQ30 111   -1,66   -1,48%

Rupiah Diproyeksi Kembali Melemah Hari Ini (25/9), Tekanan dari Eksternal Makin Kuat


Jumat, 25 September 2026 / 07:05 WIB
Rupiah Diproyeksi Kembali Melemah Hari Ini (25/9), Tekanan dari Eksternal Makin Kuat
ILUSTRASI. Analis memberikan proyeksi pergerakan rupiah untuk hari ini (25/9/2026) setelah ditutup melemah 0,55% pada Kamis (24/9/2026) (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksi kembali bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada hari ini (25/9/2026).

Sekedar mengingatkan, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,55% ke Rp 17.916 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (24/9/2026). Sejalan, kurs rupiah JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) pun ikut melemah 0,53% secara harian menjadi Rp 17.898 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah kembali meningkat berkat kombinasi sentimen eksternal dan internal. 

Baca Juga: Pengendali Beli 62,5 Juta Saham, Harga Saham Ini Terus Melonjak 17%

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari kondisi eksternal, terutama harga minyak mentah yang masih tinggi. 

Harga minyak mentah acuan, Brent dan WTI, kembali reli dengan harga minyak Brent bertengger di atas US$ 100 per barel. Reli harga minyak terjadi setelah Kelompok Houthi kembali menyerang sejumlah wilayah di Arab Saudi pada Kamis (24/9/2026)

Selai itu, fenomena El Nino yang dapat meningkatkan gangguan terhadap produksi dan pasokan pangan.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap sejumlah indikator ekonomi Indonesia yang akan dirilis pada awal Oktober. Ia memperkirakan neraca perdagangan Indonesia yang sebelumnya mencatat surplus berpotensi kembali defisit pada Agustus.

Ibrahim juga memperkirakan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur September masih berpotensi berada di zona kontraksi.

"Cadangan devisa kemungkinan menyusut akibat intervensi di pasar NDF, sedangkan indeks keyakinan konsumen kemungkinan turun dari Agustus," ujar Ibrahim, Kamis (24/9/2026).

Ibrahim mengatakan, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan selama tiga bulan berturut-turut dapat menjadi jeda sementara. Pasalnya, risiko eksternal masih tinggi seiring kenaikan imbal hasil global, harga minyak yang fluktuatif, serta ketegangan geopolitik.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham Hari Ini (25/9): AADI, BBRI dan HRTA

Menurut dia, jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga penguatan dolar AS sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Maka untuk perdagangan hari ini (25/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak dalam rentang Rp 17.910-Rp 18.000 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×