Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan tren pelemahan di pasar spot pada perdagangan Selasa (28/4/2026), seiring meningkatnya tekanan dari sentimen global dan ketidakpastian geopolitik.
Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.243 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 0,19% dibandingkan hari sebelumnya. Sejalan dengan itu, rupiah berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) juga mencatat pelemahan 0,10% secara harian ke posisi Rp 17.245 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah masih didorong oleh faktor eksternal, khususnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Menurutnya, upaya penyelesaian konflik masih menghadapi hambatan, terutama terkait akses distribusi energi global melalui Selat Hormuz yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Baca Juga: Purbaya Sinyalkan Insentif, OJK Harap Dukungan Fiskal untuk Dorong Investor Ritel
“Iran terlihat menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz awal pekan ini. Namun, laporan pada hari Senin menunjukkan Washington sebagian besar skeptis terhadap proposal tersebut, mengingat hal itu melibatkan penundaan pembicaraan tentang aktivitas nuklir Teheran,” ujar Ibrahim, Selasa (28/4/2026).
Fundamental Domestik Solid, Tapi Rentan Tekanan Eksternal
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif solid. Stabilitas inflasi, pertumbuhan ekonomi yang terjaga, serta sistem keuangan yang cukup kuat menjadi faktor penopang utama.
Meski demikian, ia menyoroti sejumlah tantangan struktural yang membuat rupiah tetap rentan terhadap tekanan global. Beberapa di antaranya adalah cadangan devisa yang sebagian masih ditopang oleh utang, arus investasi asing yang diimbangi dengan aliran keluar berupa dividen dan bunga, hingga indikasi deindustrialisasi dini.
Selain itu, ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek dinilai meningkatkan sensitivitas rupiah terhadap perubahan sentimen global.
Lebih lanjut, Ibrahim mengingatkan bahwa narasi “rupiah undervalued” yang kerap disampaikan BI belum cukup kuat untuk menjaga kepercayaan pasar tanpa dukungan fundamental ekonomi yang konkret.
Baca Juga: IHSG Ditutup Terkoreksi 0,48% ke 7.072 Selasa (28/4), Top Losers: JPFA, AMRT, AMMN
“Namun, narasi tersebut berpotensi menjadi problematis apabila terus diulang tanpa diiringi fundamental yang nyata,” imbuhnya.
Pasar Menanti Sinyal The Fed
Untuk perdagangan Rabu (29/4), pelaku pasar akan mencermati hasil pertemuan bank sentral AS, Federal Reserve. Bank sentral tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya, namun pasar menunggu sinyal arah kebijakan moneter ke depan, khususnya terkait inflasi.
Selain itu, isu pergantian kepemimpinan di The Fed juga menjadi sorotan, dengan Jerome Powell disebut akan digantikan oleh Kevin Warsh.
Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (29/4/2026) akan bergerak di kisaran Rp 17.240 hingga Rp 17.280 per dolar AS, dengan volatilitas yang masih dipengaruhi dinamika global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













