kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

IHSG Diramal Sideways di Perdagangan 15-19 Juni 2026, Ini Sederet Sentimennya


Minggu, 14 Juni 2026 / 14:44 WIB
IHSG Diramal Sideways di Perdagangan 15-19 Juni 2026, Ini Sederet Sentimennya
ILUSTRASI. IHSG Melemah-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) libur satu hari pada pekan ketiga bulan Juni 2026. Pada pekan pendek tersebut, pasar saham hanya tersisa empat hari perdagangan, yakni Senin (15/6/2026), Rabu (17/6/2026), Kamis (18/6/2026) dan Jumat (19/6/2026).

Sebagai informasi, bursa libur satu hari memperingati 1 Muharam Tahun baru Islam 1448 Hijriah yang jatuh pada Selasa (16/6/2026).

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengatakan memasuki perdagangan pekan depan antara 15 Juni hingga 19 Juni 2026, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan cenderung terbatas atau sideways mengingat jumlah hari bursa relatif pendek. 

Baca Juga: Rekomendasi Saham Rumah Senin (15/6): MIKA, HEAL, atau SILO yang Paling Menarik?

Pelaku pasar mencermati rilis beberapa data ekonomi makro krusial, utamanya keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) serta pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) pada 18 Juni 2026.  

The Fed diperkirakan menahan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5%–3,75%, meskipun tingkat inflasi Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS naik ke level 4,2% pada Mei 2026.

Sebaliknya, Bank Indonesia (BI) justru berpotensi kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps hingga 50 bps sebagai langkah preventif stabilitas nilai tukar dari tekanan outflow dana asing, di tengah tren landai surplus neraca dagang sebagai bahan bakar cadangan devisa. 

"Selain itu, perhatian investor menjelang akhir bulan juga tertuju pada hasil tinjauan (review) indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia pada 23 Juni 2026 mendatang," ucap Ratih kepada Kontan, Minggu (14/6/2026).

Ratih memprediksi IHSG pekan depan berpotensi bergerak terbatas di level 5.800-6.200.  

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menjelaskan dalam skenario konservatif, IHSG diperkirakan bergerak di rentang 5.950–6.050. Sementara itu, pada skenario moderat, IHSG berpotensi berada di kisaran 6.000–6.150. 

Adapun dalam skenario agresif, indeks berpeluang menembus level 6.200 apabila didukung oleh sentimen positif dari pasar global dan domestik, serta berlanjutnya arus masuk dana asing (capital inflow) ke pasar saham Indonesia seperti yang terjadi pada perdagangan Jumat (12/6/2026) lalu.

Sentimen utama penggerak IHSG pekan depan berasal dari hasil FOMC The Fed, keputusan BI Rate, MSCI Accessibility Review, serta MSCI Classification Review yang akan menjadi perhatian investor asing. Selain itu pasar juga masih mencermati perkembangan konflik geopolitik global dan pergerakan nilai tukar rupiah.

Dari sisi domestik, penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir menjadi sentimen positif karena membantu memperbaiki market sentiment dan mengurangi kekhawatiran investor terhadap risiko capital outflow

"Jika tren penguatan rupiah dapat berlanjut, maka hal tersebut berpotensi memberikan tambahan dukungan bagi pergerakan IHSG dalam jangka pendek," kata Elandry kepada Kontan, Jumat (12/6/2026) lalu.

Strategi untuk Investor

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Berpotensi Tekan Margin Kalbe Farma (KLBF), Simak Rekomendasinya

Menyikapi potensi konsolidasi pasar pada pekan depan, Ratih bilang investor perlu mempertimbangkan aksi ambil untung jangka pendek atau tactical profit taking pada saham volatil untuk mempertebal posisi kas sebagai antisipasi jika IHSG kembali mengalami koreksi sehat. 

Di sisi lain, jika ada momentum pelemahan pasar akibat berlanjutnya ketidakpastian global dan tekanan rupiah dapat dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap atau buy on weakness pada saham value investing dan mampu memberikan passive income yang konsisten.

Dalam kondisi pasar saat ini, sektor perbankan tetap jadi pilihan karena kondisi fundamental yang solid, valuasi murah dengan Price Book Value (PBV) rata-rata dibawah 15-20 tahun terakhir hingga potensi perolehan dividend yield yang masih menarik di kisaran 8% hingga 12%. 

Investor juga dapat memilih saham dengan potensi kinerja keuangan turnaround, misalnya PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).

Di sisi lain, Elandry menerangkan dengan hanya tersisa empat hari perdagangan efektif, strategi yang cukup menarik untuk diterapkan adalah trading buy on weakness pada saham-saham berkapitalisasi besar yang masih menjadi sasaran utama aliran dana investor. 

"Fokus investor sebaiknya tetap pada saham berfundamental kuat dan likuiditas tinggi karena pasar masih berpotensi bergerak volatil menjelang sejumlah agenda penting pekan depan," tambah Elandry.

Elandry melihat sektor perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masih menarik karena menjadi proxy utama masuknya dana asing. 

Selain itu PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menarik karena karakter defensifnya, sementara PT Astra International Tbk (ASII) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) berpotensi mendapat sentimen positif dari pemulihan aktivitas ekonomi domestik dan stabilisasi harga komoditas. 

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga dianggap menarik dicermati seiring membaiknya risk appetite investor terhadap saham-saham berbasis konglomerasi.

Elandry juga berpandangan investor tetap perlu disiplin menerapkan manajemen risiko karena meskipun IHSG berhasil kembali ke atas level 6.000, pasar masih berhadapan dengan sejumlah katalis penting yang berpotensi meningkatkan volatility dalam jangka pendek. 

Selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.000, peluang melanjutkan rebound menuju 6.150–6.200 masih terbuka.

Rekomendasi Saham

Untuk jangka pendek, Elandry memilih sejumlah saham yang menarik dicermati antara lain BBCA dengan target  harga Rp 7.000, BBNI Rp 4.000, TLKM Rp 3.300, ASII Rp 5.200, AKRA Rp 1.400, dan BRPT Rp 1.900.

Adapun Ratih menyarankan sejumlah saham yang layak dipertimbangkan, antara lain:

1. EXCL

Rekomendasi: Accumulative buy

Resistance: Rp 2.780

Support: Rp 2.350

2. ADMR

Rekomendasi: Accumulative buy

Resistance: Rp 1.670

Support: Rp 1.450

3. BMRI

Rekomendasi: Buy on weakness

Resistance: Rp 4.450

Support: Rp 4.000

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Berpotensi Tekan Margin Kalbe Farma (KLBF), Simak Rekomendasinya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×