Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten sektor rumah sakit diperkirakan masih bertumbuh pada kuartal III-2026 meski dihadapkan pada tekanan biaya akibat pelemahan rupiah dan kenaikan upah tenaga kerja.
Kepala Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menilai sektor rumah sakit tetap menarik karena permintaan layanan kesehatan cenderung stabil dan tidak terlalu dipengaruhi kondisi ekonomi.
Menurutnya, emiten seperti Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dan Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) berpeluang mencatat pertumbuhan pendapatan dua digit secara tahunan (year on year/YoY).
Baca Juga: Niramas Utama Bakal IPO, Incar Dana Segar Rp 392 Miliar
Prospek tersebut ditopang oleh ekspansi kapasitas layanan dan pertumbuhan jumlah pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang masih konsisten. Namun, sektor rumah sakit masih menghadapi sejumlah tantangan.
"Sektor rumah sakit masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama tekanan biaya akibat pelemahan rupiah yang meningkatkan beban impor alat kesehatan dan obat-obatan, serta kenaikan UMR sekitar 6,5% yang membebani biaya tenaga kerja yang menyumbang 35%-40% dari cost of goods sold (COGS)," ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (12/6).
Selain itu, persaingan di segmen rumah sakit swasta kelas menengah hingga atas juga semakin ketat.
Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati pergerakan nilai tukar rupiah sebagai salah satu faktor yang memengaruhi profitabilitas emiten rumah sakit.
"Setiap depresiasi Rp 1.000 terhadap dolar AS diperkirakan dapat menekan margin hingga 1-2 basis poin," kata Wafi.
Di sisi lain, realisasi ekspansi kapasitas yang berjalan sesuai jadwal, potensi kenaikan tarif JKN, serta tingkat utilisasi tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) di atas 80% menjadi katalis positif yang dapat menopang pertumbuhan sektor ini pada paruh kedua tahun ini.
Wafi menambahkan, kemampuan emiten untuk meneruskan kenaikan biaya kepada pasien berbeda-beda. Rumah sakit premium dinilai lebih fleksibel karena dapat mengalihkan sekitar 40%-60% kenaikan biaya kepada pasien.
Sebaliknya, rumah sakit dengan porsi pasien JKN yang besar memiliki ruang penyesuaian harga yang lebih terbatas karena tarif layanan diatur pemerintah.
Dengan prospek tersebut, Wafi merekomendasikan buy saham MIKA dengan target harga Rp 3.200 per saham dan buy HEAL dengan target harga Rp 1.600 per saham.
Baca Juga: Penguatan IHSG Disebut Cerminkan Fundamental RI, BTN: Sektor Ril Perlu Diperkuat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













