kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.147   50,00   0,28%
  • IDX 5.373   -66,16   -1,22%
  • KOMPAS100 696   -6,74   -0,96%
  • LQ45 542   -4,89   -0,89%
  • ISSI 183   -3,13   -1,68%
  • IDX30 304   -2,05   -0,67%
  • IDXHIDIV20 401   -1,94   -0,48%
  • IDX80 80   -0,68   -0,84%
  • IDXV30 111   -0,79   -0,70%
  • IDXQ30 101   -0,36   -0,35%

Rupiah Kembali Tertekan, Lonjakan Harga Minyak Berisiko Perlebar Defisit APBN


Senin, 26 Oktober 2026 / 15:38 WIB
Rupiah Kembali Tertekan, Lonjakan Harga Minyak Berisiko Perlebar Defisit APBN
ILUSTRASI. Pada Senin (26/10/2026), rupiah spot ditutup melemah 0,30% ke level Rp 18.135 per dolar AS. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026). Tekanan terhadap rupiah datang dari kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia di tengah kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup melemah 0,30% ke level Rp 18.135 per dolar Amerika Serikat (AS), dari penutupan sebelumnya di Rp 18.080 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 18.116 per dolar AS, melemah 0,26% dibandingkan posisi Jumat (23/10/2026) di Rp 18.069 per dolar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu sentimen yang perlu dicermati karena berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran negara. Sebagai importir neto minyak, Indonesia menghadapi risiko kenaikan biaya impor energi sekaligus peningkatan beban subsidi dan kompensasi.

Baca Juga: Barito Renewables (BREN) Dibayangi Risiko Tata Kelola, Cek Prospek Saham EBT Lainnya

"Kekhawatiran fiskal kembali meningkat seiring dengan kenaikan harga minyak global, mengingat Indonesia berstatus sebagai importir neto minyak. Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN melalui peningkatan biaya impor minyak dan beban subsidi energi serta kompensasi kepada Pertamina," tulis Ibrahim dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).

Menurut Ibrahim, tekanan fiskal juga perlu diwaspadai ketika pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN) terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak. Setiap kenaikan yield SBN sebesar 0,1% berpotensi memperlebar defisit APBN sebesar Rp 1,9 triliun, sedangkan depresiasi rupiah sebesar Rp 100 per dolar AS dapat menambah defisit sekitar Rp 800 miliar.

Sementara itu, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) hingga akhir September 2026 mencapai US$ 91,9 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$ 70 per barel. Belanja subsidi dan kompensasi energi hingga 30 September 2026 juga telah mencapai Rp 376,8 triliun, meningkat 54,1% secara tahunan.

"Masalahnya, gejolak pada yield SBN dan rupiah dibarengi dengan kenaikan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang memiliki sensitivitas terbesar kepada defisit APBN. Setiap kenaikan US$ 1 per barel bahkan dapat memperlebar defisit hingga Rp 6,8 triliun," jelas Ibrahim.

Baca Juga: RUPSLB PP Properti (PPRO) Setujui Perubahan Susunan Direksi dan Nomenklatur Jabatan

Dari eksternal, ketegangan di Timur Tengah masih membayangi rupiah menyusul serangan kelompok Houthi Yaman terhadap Arab Saudi yang memicu kekhawatiran konflik meluas. Meski upaya diplomatik memberikan sedikit kelegaan dan indeks dolar AS melemah pada Senin, rupiah masih tertekan.

Ibrahim juga menyoroti pelemahan rupiah setelah pengumuman MSCI yang berpotensi menambah beban fiskal di tengah kenaikan harga energi.

"Ditambah dengan depresiasi rupiah yang belakangan terjun bebas, apalagi setelah pengumuman MSCI. Biaya impor energi bisa membuat kantong negara semakin kering," tuturnya.

Ke depan, pelaku pasar juga akan mencermati pertemuan Federal Reserve (The Fed) yang dimulai Selasa (27/10/2026). Keputusan kebijakan moneter yang dijadwalkan pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari WIB, serta rilis data inflasi PCE inti AS pada Kamis, berpotensi mempengaruhi arah dolar AS dan mata uang negara berkembang.

Untuk perdagangan Selasa (27/10/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 18.130-Rp 18.180 per dolar AS. Sementara itu, sepanjang pekan ini rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp 17.900-Rp 18.250 per dolar AS. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×