kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.147   50,00   0,28%
  • IDX 5.373   -66,16   -1,22%
  • KOMPAS100 696   -6,74   -0,96%
  • LQ45 542   -4,89   -0,89%
  • ISSI 183   -3,13   -1,68%
  • IDX30 304   -2,05   -0,67%
  • IDXHIDIV20 401   -1,94   -0,48%
  • IDX80 80   -0,68   -0,84%
  • IDXV30 111   -0,79   -0,70%
  • IDXQ30 101   -0,36   -0,35%

Mitratel (MTEL) Bidik Pertumbuhan dari Shared Infrastructure, Simak Prospek Sahamnya


Senin, 26 Oktober 2026 / 16:49 WIB
Mitratel (MTEL) Bidik Pertumbuhan dari Shared Infrastructure, Simak Prospek Sahamnya
ILUSTRASI. Mitratel (MTEL) mengandalkan shared infrastructure dan ekspansi fiber untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Simak prospek dan rekomendasi sahamnya. (DOK/MTEL)


Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) berpeluang meningkatkan kinerja bisnis lewat strategi shared infrastructure, yakni pemanfaatan infrastruktur telekomunikasi secara bersama.

Strategi ini dinilai dapat menaikkan utilisasi menara sekaligus mendorong pertumbuhan pendapatan dari layanan konektivitas fiber.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai strategi ini cukup prospektif karena operator telekomunikasi bisa berbagi penggunaan infrastruktur, sehingga biaya ekspansi jaringan lebih efisien.

Bagi Mitratel, peluang utamanya ada pada peningkatan tenancy ratio (rasio penyewaan menara) dan optimalisasi aset yang sudah dimiliki.

“Dampaknya terhadap pendapatan tetap bergantung pada realisasi penambahan penyewa dan tingkat utilisasi aset,” ujar Elandry dalam wawancara tertulis (26/10/2026).

Baca Juga: Harga Minyak WTI & Brent Kompak Turun Lebih dari 2%, Harga WTI Bisa Jatuh ke US$ 95

Selain bisnis menara yang masih menjadi tulang punggung, pengembangan fiber connectivity berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru seiring naiknya kebutuhan kapasitas data dan perluasan jaringan 4G maupun 5G.

Integrasi menara, jaringan fiber optik, dan solusi energi juga berpeluang menaikkan pendapatan dari setiap lokasi infrastruktur.

Pada semester I-2026, MTEL membukukan pendapatan Rp4,69 triliun, tumbuh 2,1% secara tahunan. Laba bersihnya mencapai sekitar Rp1,11 triliun, naik 1,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Elandry memperkirakan pertumbuhan kinerja masih bisa berlanjut lewat penambahan penyewa, ekspansi fiber, dan efisiensi biaya operasional. Meski begitu, investor perlu mencermati pertumbuhan pendapatan yang relatif moderat, kebutuhan belanja modal, dan biaya pendanaan perusahaan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, juga menilai penerapan shared infrastructure berpotensi meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas MTEL.

Pasalnya, sebagian besar biaya operasional menara bersifat tetap, sehingga tambahan penyewa pada menara yang sudah beroperasi dapat mendongkrak margin keuntungan.

Baca Juga: Petrosea (PTRO) Beli Kapal Rp 5,46 Miliar dari Perusahaan Afiliasi

“Dengan mendorong penyewaan bersama pada menara yang sama, MTEL mampu meningkatkan rasio tenancy secara bertahap. Peningkatan tenancy ratio pada menara yang sudah ada (colocation) secara langsung memberikan dampak positif yang signifikan terhadap margin EBITDA dan imbal hasil modal terinvestasi (ROIC),” ujar Nafan dalam wawancara tertulis (26/10/2026).

Prospek MTEL juga ditopang kebutuhan operator seluler untuk memperluas jaringan ke luar Jawa dan mengembangkan jaringan serat optik demi meningkatkan kapasitas layanan data.

Namun, perusahaan menghadapi risiko konsolidasi operator yang bisa memicu pelepasan sewa pada menara dengan lokasi tumpang-tindih, serta tekanan tarif sewa akibat makin kuatnya daya tawar pelanggan.

Di sisi lain, kebutuhan belanja modal untuk pemeliharaan dan pengembangan jaringan fiber juga perlu diperhatikan, terutama jika biaya pendanaan naik.

Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah 1,22% di Senin (26/10), Begini Proyeksi IHSG Dalam Sepekan

Nafan menambahkan, pertumbuhan MTEL ke depan berpotensi didorong oleh monetisasi jaringan fiber, akuisisi portofolio menara, dan meningkatnya permintaan infrastruktur pendukung 5G.

Untuk prospek saham, Elandry menilai MTEL menarik dicermati investor dengan horizon menengah hingga panjang, karena bisnis penyewaan menara menghasilkan pendapatan berulang.

Ia merekomendasikan buy on weakness secara bertahap dengan target harga Rp650 per saham, sambil tetap memperhatikan valuasi, arus kas, dan sentimen pasar.

Sementara itu, Nafan memberikan rekomendasi not rated untuk saham MTEL. Investor perlu memantau kinerja keuangan, tingkat utilisasi aset, dan realisasi pertumbuhan bisnis fiber untuk menilai prospek saham MTEL ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×