Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah berpotensi mempertahankan tren positifnya pada perdagangan awal pekan seiring meredanya tekanan dolar Amerika Serikat (AS) dan kuatnya ketahanan sektor eksternal domestik.
Melansir data Bloomberg pada perdagangan Jumat (21/8/2026), rupiah spot ditutup menguat 0,30% atau 54 poin ke level Rp 17.694 per dolar AS.
Sementara dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang menguat 0,42% dari Rp 17.779 menjadi Rp 17.705 per dolar AS.
Baca Juga: Laba Emiten Jadi Cakupan Maybank Sekuritas Mulai Melambat, Sektor Ini Paling Moncer
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai bahwa apresiasi mata uang Garuda di akhir pekan lalu dipicu oleh kombinasi penahan tekanan eksternal dan katalis positif dari dalam negeri.
Kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) terkait perluasan program pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah berjangka panjang sukses meredakan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury (UST).
Langkah ini mengurangi daya tarik dolar AS secara global, sementara pelemahan data ekonomi AS yang terjadi sebelumnya menggeser ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Federal Reserve.
Kondisi tersebut memberikan ruang koreksi bagi indeks dolar AS dan memicu penguatan mayoritas mata uang kawasan Asia.
Di panggung domestik, pelaku pasar memantau efektivitas sinyal kebijakan Bank Indonesia pasca-Rapat Dewan Gubernur (RDG) dalam menjaga stabilitas likuiditas dan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75%.
Selain itu, perbaikan posisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2026 yang ditopang oleh tingginya surplus investasi langsung (foreign direct investment) turut memperkuat persepsi positif investor terhadap iklim investasi nasional.
"Kombinasi likuiditas domestik yang tetap memadai dan derasnya aliran masuk portofolio asing bertindak sebagai tameng berlapis bagi rupiah. Di tengah potensi kenaikan imbal hasil US Treasury global, keberadaan instrumen pro-market seperti SRBI dan insentif valas BI akan terus menahan tekanan pelemahan," ujar Rahma kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga: Nextier Datamate Lepas 52,93 Juta Saham NExAI (MGLV) di Rp 7.000, Harga Tetap Naik
Menatap perdagangan Senin (24/8/2026), laju rupiah akan kembali diuji oleh dinamika Indeks Dolar AS (DXY), pergerakan yield UST, serta arah mata uang regional. Kendati demikian, menyusutnya defisit NPI dinilai memberi pijakan fundamental yang cukup kokoh untuk meredam potensi volatilitas global.
"Dengan menyusutnya defisit NPI, rupiah memiliki pijakan fundamental yang kuat untuk mempertahankan tren konsolidasinya," kata Rahma.
Memasuki perdagangan awal pekan pada Senin (24/8/2026), Rahma memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.650 hingga Rp 17.750 per dolar AS, dengan potensi melanjutkan konsolidasi di zona penguatan mengekor tren pelemahan indeks dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














