Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah berpotensi menguat tipis pada perdagangan awal pekan. Penguatan ini berkat pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta sokongan transmisi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia.
Mengutip data Bloomberg pada Jumat (21/8/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,30% atau 54 poin ke level Rp 17.694 per dolar AS. Sementara nilai kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menguat 0,42% dari Rp 17.779 menjadi Rp 17.705 per dolar AS.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan bahwa laju apresiasi rupiah pada akhir pekan lalu utamanya ditopang oleh penurunan indeks DXY ke kisaran 98,73 seiring langkah Departemen Keuangan AS memperluas program buyback obligasi jangka panjang dan masih tingginya ketidakpastian arah kebijakan The Fed.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat ke Rp 17.650 pada Senin (24/8) , Ini Pendorongnya
Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% menjaga daya tarik imbal hasil aset domestik, yang tercermin dari masuknya net inflow portofolio asing triwulan III sebesar US$ 1,8 miliar hingga pertengahan Agustus.
Langkah BI memberikan insentif swap lindung nilai dan menjaga stabilitas pasar valas turut menjadi penyangga bagi pergerakan rupiah.
Meski demikian, tingginya yield US Treasury 10 tahun di kisaran 4,71% dan harga minyak Brent di atas US$93 per barel menandakan bahwa pasar belum sepenuhnya aman.
"Penutupan Rp 17.694 lebih tepat dibaca sebagai penguatan berbasis pelemahan dolar dan dukungan kebijakan domestik, bukan perubahan rezim menuju apresiasi panjang," ungkap Syafruddin kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).
Memasuki perdagangan Senin (24/8/2026), pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada respons pasar global selama akhir pekan terhadap dinamika DXY, rilis data ekonomi AS, serta eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang berisiko melambungkan harga minyak mentah.
Di sisi lain, instrumen pro-pasar seperti SRBI dan SBN diperkirakan masih sanggup menahan potensi arus modal keluar. "Indikator pembuka Senin yang paling penting ialah DXY, UST 10Y, Brent, dan arus portofolio," tambah Syafruddin.
Untuk perdagangan Senin (24/8/2026), Syafruddin memproyeksikan rupiah bergerak pada kisaran dasar Rp 17.620–Rp 17.780 per dolar AS dengan titik keseimbangan awal di Rp 17.680–Rp 17.720 per dolar AS.
Jika DXY terus melemah dan aliran modal asing mengalir deras ke SRBI, rupiah berpeluang masuk skenario kuat di rentang Rp 17.550–Rp 17.620, namun risiko risk-off dapat menekan nilai tukar menuju Rp 17.800–Rp 17.900 per dolar AS.
Baca Juga: Laba Emiten Jadi Cakupan Maybank Sekuritas Mulai Melambat, Sektor Ini Paling Moncer
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














