Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Selasa (18/8/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,36% secara harian ke Rp 17.862 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,11% dibanding pada penutupan perdagangan Jumat (14/8) ke level Rp 17.856 per dolar AS.
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah melemah karena harga minyak mentah dunia yang kembali naik. Hal itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS tidak akan mengupayakan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
Ia mengklaim bahwa AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran. Trump juga mengancam akan membom Oman habis-habisan jika negara itu "menghalangi," meskipun tidak segera jelas apa dasar ancaman tersebut.
Baca Juga: Laba Avian Brands (AVIA) Tumbuh 20,7%, Tetap Ngebut Meski Harga Cat Naik 2 Kali
“Seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Iran akan beralih ke postur militer yang "sepenuhnya ofensif" karena upaya negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen dengan AS telah menemui jalan buntu,” ucap Ibrahim, Selasa (18/8/2026).
Ibrahim menambahkan bahwa risiko inflasi akibat energi yang terus berlanjut membuat pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga di akhir tahun ini. Para pelaku pasar kini menantikan risalah rapat FOMC bulan Juli yang akan dirilis hari Rabu untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed.
Pelaku pasar juga akan memperhatikan hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI besok. Sebab BI mulai menggelar RDG selama dua hari pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan kebijakan moneter akan diumumkan pada Rabu (19/8/2026).
“BI diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75% setelah menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April-Juni 2026,” kata Ibrahim.
Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, inflasi domestik, kondisi likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun. Sikap dan panduan BI akan menjadi salah satu penentu arah rupiah berikutnya di tengah ketidakpastian global, setelah fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir dibawah kepemimpian Bapak Perry Warjiyo sebagai gubernur Bank Indonesia.
Ibrahim memproyeksikan rupiah besok (19/8) bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.860 – Rp 17.920 per dolar AS.
Baca Juga: Pasar Makin Selektif, Mirae Asset Sekuritas Genjot Layanan Wealth Management
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
