Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (18/8/2026), seiring pasar menantikan hasil rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,36% secara harian ke level Rp 17.862 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.856 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,11% dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (14/8/2026).
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu (19/8) salah satunya akan dipengaruhi oleh sentimen kebijakan moneter. Pelaku pasar akan mencermati hasil RDG BI yang berlangsung selama dua hari pada 18-19 Agustus 2026.
Keputusan kebijakan moneter BI dijadwalkan diumumkan pada Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Astra International (ASII) Diproyeksi Moncer Semester II 2026, Ini Katalisnya
“BI diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75% setelah menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April-Juni 2026,” ucap Ibrahim, Selasa (18/8/2026).
Menurut Ibrahim, selain keputusan mengenai suku bunga, pasar juga akan mencermati pandangan BI terkait stabilitas rupiah, inflasi domestik, kondisi likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.
Ia menilai sikap dan panduan BI akan menjadi salah satu faktor yang menentukan arah rupiah selanjutnya, terutama di tengah ketidakpastian global. Hal tersebut terjadi setelah fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir di bawah kepemimpinan Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Di sisi lain, Ibrahim melihat rupiah masih menghadapi risiko inflasi seiring kembali meningkatnya harga komoditas energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, pasar juga belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini. Pelaku pasar kini menunggu risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juli yang akan dirilis pada Rabu untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed.
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada perdagangan Rabu (19/8) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memperkirakan rupiah berada dalam rentang Rp 17.860-Rp 17.920 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Yuan dan Dolar Singapura Jadi Pilihan di Tengah Pelemahan DXY
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual melihat kondisi pasar relatif kondusif. Menurut dia, investor kembali mengambil posisi risk on di pasar negara berkembang atau emerging market.
Kondisi tersebut tercermin dari penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) setelah data ketenagakerjaan dan inflasi AS menunjukkan pelemahan.
David menambahkan, pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi oleh ekspektasi pasar serta hasil RDG BI yang akan diumumkan pada Rabu (19/8/2026).
“Rupiah relatif stabil di tengah ekspektasi BI rate akan ditahan,” ujar David.
David memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (19/8) akan bergerak dalam rentang Rp 17.800-Rp 17.950 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
