Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Selasa (14/7/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,10% secara harian ke Rp 18.091 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,18% secara harian ke Rp 18.099 per dolar AS.
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah terjadi karena pasar merespons positif laporan S&P Global Ratings. Dalam laporannya, S&P memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5% setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Lembaga pemeringkat ini juga mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap stabil.
“S&P menyampaikan bahwa peringkat kredit Indonesia bertahan di BBB berkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat,” kata Ibrahim, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: Kompak, Rupiah Jisdor Menguat 0,18% ke Rp 18.099 per Dolar AS pada Selasa (14/7/2026)
Menurut S&P, prospek pertumbuhan ekonomi tersebut terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB.
Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan hilirisasi, yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya. S&P menilai kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor.
Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia tembus 5,6% pada kuartal I – 2026, hal itu tetap dibarengi oleh gejolak pasar keuangan selama semester I – 2026. Pasar saham yang paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi pasar. Belum lagi, nilai tukar rupiah juga turun sektar 7% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada periode yang sama.
“Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri,” ucap Ibrahim.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,10% ke Rp 18.091 per Dolar AS pada Selasa (14/7/2026)
Adapun untuk Rabu (15/7/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen geopolitik di Timur Tengah.
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Rabu (15/7/2026) bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang Rp 18.090 – Rp 18.140 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














