kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.853   30,00   0,17%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Rekor Lagi! Rupiah ke Rp 17.846 per Dolar Kamis (28/5), Pelemahan 6 Hari Beruntun


Kamis, 28 Mei 2026 / 16:56 WIB
Rekor Lagi! Rupiah ke Rp 17.846 per Dolar Kamis (28/5), Pelemahan 6 Hari Beruntun
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencetak rekor pelemahan baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (28/5/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.846 per dolar AS, melemah 0,25% dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp17.801 per dolar AS. Pelemahan ini menjadi yang keenam secara beruntun.

Baca Juga: Abadi Nusantara (PACK) Salurkan Pinjaman Rp1,34 Triliun ke Anak Usaha

Senasib, mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.780 per dolar AS, melemah 0,26% dari posisi sebelumnya Rp 17.743 per dolar AS.

Dengan demikian, rupiah telah melemah selama tiga hari berturut-turut berdasarkan acuan tersebut.

Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian Global

Di pasar global, dolar AS bergerak lebih tinggi pada perdagangan Kamis, setelah sempat menyentuh level terkuatnya sejak awal April.

Penguatan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Baca Juga: FAST Cetak Laba Rp 13 Miliar Kuartal I-2026, Cek Rekomendasi Sahamnya

Kekhawatiran pasar meningkat terkait prospek kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia.

Di sisi lain, fokus investor juga tertuju pada kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Ketegangan geopolitik turut meningkat setelah laporan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat oleh Garda Revolusi Iran, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump membantah adanya kesepakatan kompromi dengan Tehran.

Sebelumnya, dolar AS sempat melonjak pada Maret ketika ketegangan di kawasan tersebut mendorong kenaikan harga minyak global dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar.

Baca Juga: PGAS Perkuat Pasokan Gas dan LNG, Cek Rekomendasi Sahamnya

Ekspektasi The Fed Jadi Penopang Dolar

Pelaku pasar juga tengah mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed, terutama setelah sejumlah pejabat bank sentral AS mengeluarkan pernyataan bernada hawkish.

Analis mencatat bahwa perubahan sikap tersebut mendorong ekspektasi pasar ke arah kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

“Dengan pernyataan anggota FOMC yang semakin hawkish dalam beberapa minggu terakhir, data ekonomi yang dirilis akan menjadi penentu apakah ekspektasi kenaikan suku bunga ini akan bertahan,” ujar strategi suku bunga Commerzbank, Michael Pfister dilansir Reuters.

Baca Juga: Sebelum Saham Bekasi Asri (BAPA) Disuspensi, Belvin Tannadi Diam-Diam Kuasai 7,3%

Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya juga menyatakan bahwa bank sentral sebaiknya menghapus bias pelonggaran kebijakan, yang membuka ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga ke depan.

Sementara itu, analis ING menilai narasi hawkish The Fed kemungkinan masih akan mendominasi dalam beberapa waktu ke depan, dan memperingatkan euro berpotensi kesulitan bertahan di kisaran 1,1650–1,1660 dolar AS.

Euro sendiri tercatat melemah 0,11% ke level 1,1613 dolar AS menjelang rilis data inflasi utama AS, yaitu core PCE deflator.

“Dolar kini mendapat dukungan makroekonomi yang lebih kuat dibandingkan awal Mei, ketika pasar terlalu optimistis terhadap de-eskalasi geopolitik,” kata strategi valas ING, Francesco Pesole, merujuk pada data inflasi AS yang masih tinggi.

Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Kompak Melemah, Analis Soroti Tekanan Stagflasi AS

Harga Minyak dan Indeks Dolar

Di pasar komoditas, harga minyak naik lebih dari 2% pada Kamis setelah sebelumnya turun lebih dari 5% pada hari sebelumnya.

Kenaikan ini terjadi setelah Garda Revolusi Iran mengklaim menyerang pangkalan militer AS sebagai balasan atas serangan di pelabuhan Bandar Abbas.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia naik 0,11% ke level 99,33. Sebelumnya indeks sempat menyentuh 99,546, level tertinggi sejak 7 April.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×