Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Peluang emiten nikel untuk mempertahankan kinerja positif hingga akhir 2026 masih terbuka selama harga jual tetap tinggi. Meski demikian, pelaku industri perlu mewaspadai ketidakpastian regulasi terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta tarif royalti.
Imam juga melihat risiko tekanan terhadap harga jual bijih nikel pada kuartal III-2026. Harga bijih nikel saat ini hanya sedikit berada di atas Harga Patokan Mineral. Kenaikan biaya bahan bakar turut membatasi kemampuan smelter menyerap kenaikan harga bijih.
Untuk menghadapi perlambatan ekspor, Abida menilai emiten nikel perlu mempercepat hilirisasi ke produk dengan nilai tambah lebih tinggi, seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat.
Optimalisasi kuota RKAB serta diversifikasi komoditas di luar nikel juga menjadi langkah penting.
Baca Juga: Antam (ANTM) Diproyeksi Catat Kinerja Terkuat Kuartal III-2026, Didukung Emas & Nikel
Abida melihat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki prospek yang cukup cerah. ANTM mendapat dukungan dari target RKAB produksi bijih nikel sekitar 18,1 juta wet metric ton (wmt) pada 2026, meningkat dari realisasi 16,11 juta wmt pada tahun sebelumnya.
Selain itu, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) bijih nikel ANTM meningkat 50% secara tahunan. Diversifikasi bisnis ke sektor emas juga dinilai menjadi penyangga kinerja perusahaan.
Abida merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga Rp 4.900 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
