kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   4.000   0,15%
  • USD/IDR 17.789   55,00   0,31%
  • IDX 6.221   -34,23   -0,55%
  • KOMPAS100 825   -6,05   -0,73%
  • LQ45 625   0,55   0,09%
  • ISSI 212   -0,83   -0,39%
  • IDX30 355   0,75   0,21%
  • IDXHIDIV20 436   1,25   0,29%
  • IDX80 94   -0,15   -0,16%
  • IDXV30 116   -0,32   -0,28%
  • IDXQ30 114   0,59   0,52%

Antam (ANTM) Diproyeksi Catat Kinerja Terkuat Kuartal III-2026, Didukung Emas & Nikel


Rabu, 17 Juni 2026 / 19:17 WIB
Antam (ANTM) Diproyeksi Catat Kinerja Terkuat Kuartal III-2026, Didukung Emas & Nikel
ILUSTRASI. EMAS ANTAM (Dok/MIND ID)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada kuartal III-2026 diperkirakan tetap solid dan berpotensi menjadi periode terkuat sepanjang tahun ini. Kenaikan volume penjualan emas bersama kuota produksi bijih nikel yang lebih besar, serta harga komoditas yang masih tinggi menjadi penopang utama pertumbuhan emiten tambang pelat merah tersebut.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, memperkirakan volume penjualan emas ANTM sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar 40 ton. Di saat yang sama, harga emas global masih bertahan di atas level US$ 3.000 per ons troi, sehingga menopang profitabilitas perseroan.

Selain itu, volume penjualan bijih nikel diperkirakan meningkat seiring persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebesar 18,1 juta wet metric ton (wmt), lebih tinggi dibandingkan realisasi 16 juta wmt pada 2025.

Baca Juga: Merdeka Gold Resources (EMAS) Siapkan Dual Listing di Hong Kong, Simak Rekomendasinya

"Kuartal III-2026 berpotensi menjadi kuartal terkuat tahun ini didukung pemulihan volume emas dan peningkatan volume bijih nikel," kata Abida kepada Kontan, Rabu (17/6/2026).

Dengan dukungan tersebut, Abida memperkirakan pendapatan ANTM pada 2026 mencapai Rp 114,65 triliun atau tumbuh 35,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara laba bersih diperkirakan meningkat 23,6% secara tahunan menjadi Rp 8,91 triliun.

Meski prospeknya menarik, sejumlah tantangan masih perlu dicermati. Abida menilai kenaikan biaya bahan bakar dan energi dapat mendorong kenaikan cash cost bijih nikel sekitar 12% yang berpotensi menekan margin operasional.

Selain itu, perbedaan mekanisme penetapan harga feronikel (FeNi) yang mengacu pada Harga Mineral Acuan (HMA) dengan harga pasar masih menjadi kendala, meskipun kontribusi segmen tersebut relatif kecil terhadap total pendapatan perseroan.

Abida juga mengingatkan bahwa potensi revisi RKAB pada pertengahan tahun dapat memicu volatilitas harga jual rata-rata average selling price (ASP) bijih nikel dalam jangka pendek.

Dari sisi sentimen, pergerakan harga emas global masih menjadi faktor yang paling menentukan. Harga emas yang bertahan pada level tinggi dinilai mampu menjadi penyangga utama laba ANTM. Di sisi lain, kuota produksi nikel yang lebih besar memberikan kepastian volume penjualan hingga akhir tahun.

Baca Juga: Diastika Biotekindo (CHEK) Siapkan Rp 15 Miliar Untuk Gelar Buyback Saham

Namun, Abida mengingatkan agar investor mencermati sejumlah risiko eksternal. Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya energi impor, sementara ketidakpastian permintaan nikel dari China dapat memengaruhi harga jual bijih nikel.

Di luar faktor pasar, risiko kebijakan menjadi perhatian utama. Abida menilai kenaikan tarif royalti merupakan skenario yang paling berisiko karena berdampak langsung terhadap seluruh lini bisnis bijih nikel yang menjadi kontributor terbesar pendapatan ANTM.

"Royalti menjadi risiko terbesar karena berdampak langsung terhadap profitabilitas bisnis nikel ore. Sementara windfall tax masih sulit diestimasi, namun dampaknya dapat signifikan apabila harga emas tetap tinggi," kata Abida.

Abida memperkirakan penurunan ASP bijih nikel sebesar 10% berpotensi memangkas laba bersih sekitar Rp 1,3 triliun dan menurunkan valuasi wajar saham ANTM menjadi sekitar Rp 4.200 per saham.

Meski demikian, ANTM masih menjadi pilihan utama di sektor logam. Dengan proyeksi price to earnings ratio (PER) 2026 sebesar 10,1 kali, saham ANTM masih diperdagangkan di bawah rata-rata historis lima tahunnya yang berada di level 12,9 kali.

"Kombinasi pertumbuhan laba yang solid, eksposur terhadap harga emas dan nikel, serta risiko regulasi yang relatif lebih terkelola dibandingkan emiten sejenis menjadi daya tarik utama ANTM," ujar Abida.

Dengan berbagai pertimbangan di atas, Abida mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 4.800 per saham.

Baca Juga: Merdeka Gold Resources (EMAS) Siapkan Dual Listing di Hong Kong, Simak Rekomendasinya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×