kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.947   -95,00   -0,53%
  • IDX 6.351   31,53   0,50%
  • KOMPAS100 835   3,22   0,39%
  • LQ45 634   -1,22   -0,19%
  • ISSI 220   1,96   0,90%
  • IDX30 356   -1,18   -0,33%
  • IDXHIDIV20 435   -3,83   -0,87%
  • IDX80 95   0,21   0,22%
  • IDXV30 120   -0,51   -0,42%
  • IDXQ30 113   -0,52   -0,45%

Kinerja Emiten Properti Lesu, Analis Ungkap Saham Pilihan Semester II 2026


Rabu, 05 Agustus 2026 / 17:20 WIB
Kinerja Emiten Properti Lesu, Analis Ungkap Saham Pilihan Semester II 2026
ILUSTRASI. Kinerja emiten properti pada semester I 2026 masih dibayangi tekanan akibat kondisi makroekonomi yang belum sepenuhnya kondusif (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten properti pada semester I 2026 masih dibayangi tekanan akibat kondisi makroekonomi yang belum sepenuhnya kondusif. Tingginya suku bunga, daya beli masyarakat yang belum pulih, serta belum optimalnya penjualan menjadi faktor yang menahan pertumbuhan mayoritas perusahaan properti.

Meski demikian, sejumlah emiten masih mampu mempertahankan performa melalui pendapatan berulang (recurring income), sementara sebagian lainnya mencatatkan lonjakan kinerja berkat tingginya pengakuan pendapatan.

PT Ciputra Development Tbk (CTRA), misalnya, membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 5,19 triliun hingga akhir Juni 2026, turun 11,69% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp 5,88 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sejalan dengan penurunan pendapatan, laba bersih CTRA juga turun 11,19% YoY menjadi Rp 1,09 triliun.

Kondisi serupa dialami PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Perseroan mencatatkan pendapatan neto sebesar Rp 4,25 triliun per 30 Juni 2026, turun 7,18% YoY. Laba bersih SMRA bahkan menyusut lebih dalam, yakni 33,98% YoY menjadi Rp 332,38 miliar.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan pada Kamis (6/8), Ini Rekomendasi Analis

Sementara itu, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) membukukan laba bersih sebesar Rp 1 triliun pada kuartal II 2026, turun 11,42% dibandingkan Rp 1,13 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, total pendapatan PWON relatif stabil di level Rp 3,37 triliun.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PWON, Minarto Basuki, mengatakan kinerja perseroan tetap ditopang oleh pertumbuhan pendapatan berulang.

“Pertumbuhan ini berhasil mengimbangi moderasi pendapatan development yang disebabkan oleh perbedaan waktu pengakuan pendapatan dari serah terima unit,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).

Pendapatan recurring income PWON tumbuh 7% YoY menjadi Rp 2,89 triliun, dibandingkan Rp 2,69 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 4,75 triliun atau turun 25,64% YoY. Penurunan tersebut turut menekan laba bersih yang merosot dari Rp 1,28 triliun menjadi Rp 603,89 miliar pada kuartal II 2026.

Berbeda dengan emiten lainnya, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) justru membukukan lonjakan kinerja. Perseroan meraih laba bersih Rp 1,68 triliun pada kuartal II 2026, melonjak 483,78% YoY dari Rp 285,86 miliar.

Kenaikan laba tersebut didorong oleh pendapatan neto yang meningkat 77,61% menjadi Rp 2,92 triliun, dari Rp 1,64 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tantangan sektor properti masih besar

Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia menilai, kinerja emiten properti pada semester I 2026 masih berada dalam fase pemulihan, tetapi pertumbuhannya belum merata.

Menurut mereka, mayoritas pengembang residensial masih mencatatkan pertumbuhan secara bertahap seiring permintaan properti yang belum pulih sepenuhnya.

“Suku bunga yang masih relatif tinggi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih masih menjadi tantangan utama bagi sektor properti, terutama karena mayoritas pembelian rumah primer masih menggunakan fasilitas KPR,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, juga melihat mayoritas emiten properti besar mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih.

“Perlambatannya disebabkan oleh realisasi marketing sales yang belum optimal, kondisi makroekonomi yang tidak mendukung, serta pelemahan daya beli masyarakat,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (5/8/2026).

Sementara itu, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, menilai kinerja sektor properti sebenarnya masih cukup solid di tengah ketidakpastian ekonomi.

Ia menjelaskan, permintaan properti memang melemah di sejumlah wilayah, terutama Surabaya dan Sumatra. Namun, pasar Jabodetabek masih menunjukkan daya tahan yang baik, khususnya di proyek-proyek unggulan seperti BSD City dan Summarecon Serpong.

“Kami melihat permintaan masih cukup kuat untuk proyek-proyek selektif yang terletak di lokasi strategis,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (5/8/2026).

Baca Juga: Indeks Dolar AS Melemah Tipis, Begini Masa Depan Safe Haven Sang Greenback

Prospek semester II 2026 masih bertahap

Analis memperkirakan tantangan bagi sektor properti masih akan berlanjut hingga akhir tahun. Namun demikian, peluang pemulihan tetap terbuka, meski diperkirakan berlangsung secara bertahap.

Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia menilai, prospek sektor properti pada semester II 2026 masih didukung oleh berlanjutnya insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), meningkatnya investasi di kawasan industri, serta potensi perbaikan daya beli masyarakat.

“Dengan kondisi tersebut, developer kawasan industri masih berpeluang menjadi subsektor dengan kinerja paling resilien hingga akhir tahun,” katanya.

Menurut mereka, investor juga perlu mencermati arah kebijakan suku bunga dan pemulihan daya beli masyarakat karena kedua faktor tersebut akan sangat menentukan kecepatan pemulihan permintaan properti, terutama di segmen residensial yang masih didominasi pembelian melalui fasilitas KPR.

Dari sisi pasar saham, sektor properti dinilai masih menarik. Meski indeks sektor properti telah menguat sekitar 11,18% sepanjang Juli 2026, penguatannya masih tertinggal dibandingkan sektor energi maupun basic materials.

“Hal ini menunjukkan ruang kenaikan masih terbuka, didukung valuasi yang masih relatif menarik,” tuturnya.

Magenta Kapital Sekuritas Indonesia merekomendasikan saham CTRA dengan target harga di kisaran Rp 620 hingga Rp 650 per saham.

Saham pilihan analis

Adrian Djie memperkirakan sektor properti pada semester II 2026 berpotensi membaik secara moderat apabila kondisi geopolitik global dan makroekonomi mulai stabil.

Ia menilai prospek PANI masih positif secara tahunan, meski secara kuartalan laju pertumbuhannya diperkirakan lebih moderat. Sentimen positif berasal dari peningkatan utilisasi NICE serta perpanjangan insentif PPN DTP hingga 2027.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan pada Kamis (6/8), Ini Proyeksi Analis

“Namun perlu diperhatikan juga kondisi makroekonomi yang dapat mempengaruhi permintaan pada sektor properti,” ungkapnya.

Adrian merekomendasikan beli saham PANI dengan target harga Rp 8.500 per saham.

Sementara itu, Kevin Halim memandang semester II masih akan menjadi periode yang menantang akibat suku bunga yang tinggi dan permintaan properti yang belum sepenuhnya pulih.

Meski demikian, ia menilai permintaan properti di Jabodetabek masih cukup sehat, terutama di kawasan flagship township seperti Summarecon Serpong dan BSD City.

Kevin juga menilai PWON berpotensi menjadi emiten properti dengan kinerja terbaik pada 2026 karena memiliki porsi recurring income yang besar. Pendapatan berulang dinilai lebih tangguh dibandingkan penjualan properti dalam kondisi pasar saat ini.

Adapun rekomendasi saham dari Maybank Sekuritas Indonesia meliputi BSDE dengan target harga Rp 1.050 per saham, CTRA Rp 850 per saham, PWON Rp 430 per saham, dan SMRA Rp 470 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×