Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Rupiah menuju pelemahan mingguan terbesar sejak Mei 2026 seiring kenaikan imbal hasil US Treasury, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), dan meningkatnya ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Mengacu data Reuters, rupiah melemah hingga 0,3% ke level Rp17.935 per dolar AS. Dengan pelemahan lebih dari 1% sepanjang pekan ini, rupiah berada di jalur mencatat kinerja mingguan terburuk sejak pertengahan Mei.
Tekanan terhadap rupiah datang setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada Rabu (23/9).
Baca Juga: Akun Kripto Perusahaan: Solusi Kelola Aset Digital untuk Perusahaan
Keputusan tersebut diambil setelah BI sebelumnya menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni untuk menopang nilai tukar rupiah.
BI juga mengisyaratkan akan lebih mengandalkan langkah berbasis pasar untuk menjaga stabilitas rupiah, di tengah tekanan dari kenaikan harga minyak dan yield obligasi AS.
Analis strategi valuta asing MUFG Lloyd Chan mengatakan, BI dan Kementerian Keuangan berkoordinasi terkait rencana pembiayaan tahun depan untuk membantu mengurangi tekanan di pasar obligasi domestik.
Namun, menurut Chan, koordinasi tersebut memiliki ruang perlindungan yang terbatas jika tekanan eksternal berlangsung berkepanjangan.
"Jika kondisi eksternal semakin memburuk, beban penyesuaian dapat lebih banyak ditanggung oleh rupiah dan meningkatkan tekanan terhadap bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat," kata Chan dalam catatannya.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Capai US$ 4.800 per Ons Akhir 2026, Cek Strategi Investasinya
Rupiah terlemah di antara emerging Asia
Sepanjang tahun berjalan, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terlemah di antara negara-negara emerging Asia yang merupakan importir minyak.
Rupiah telah melemah sekitar 7% terhadap dolar AS sepanjang 2026. Pelemahan tersebut terjadi ketika harga minyak mentah yang tinggi meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Indonesia.
Kebijakan subsidi bahan bakar untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga minyak juga meningkatkan perhatian investor terhadap kondisi fiskal Indonesia yang memiliki ukuran ekonomi sekitar US$1,4 triliun.
Tekanan eksternal semakin besar karena yield obligasi AS tenor 30 tahun telah mencapai level tertinggi sejak 2004.
Pada saat yang sama, dolar AS tetap kuat sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang Asia.
Baca Juga: Yield UST Melonjak, Obligasi Emerging Market Berpeluang Kecipratan Dana Asing
Mata uang Asia bergerak beragam
Pergerakan mata uang Asia lainnya cenderung bervariasi. Baht Thailand kembali melemah menjadi 33,455 per dolar AS, sementara rupee India menguat tipis di tengah ekspektasi intervensi Reserve Bank of India.
Ringgit Malaysia menguat 0,2%. Won Korea Selatan dan dolar Taiwan masing-masing menguat 0,5% dan 0,2%, meski aktivitas perdagangan relatif tipis karena kedua pasar tersebut tutup untuk libur.
Di pasar saham, bursa regional bergerak menguat. Saham Thailand dan Filipina masing-masing naik 0,5% dan 0,7% setelah terkoreksi pada sesi sebelumnya. Sebaliknya, saham di Jakarta turun 0,6%.
Investor juga mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington. Hingga kini belum terlihat terobosan dalam sejumlah isu utama, termasuk AI, perdagangan dan Taiwan.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.942 Per Dolar AS di Siang Ini (25/9), Terlemah di Asia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














