kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Pertumbuhan obligasi korporasi tak signifikan di tahun politik


Rabu, 16 Oktober 2019 / 20:48 WIB
ILUSTRASI. Aktivitas di Mandiri Sekuritas Jakarta, Rabu (19/7). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia jumlah obligasi korporasi yang akan jatuh tempo semester II 2017 mencapai Rp 38,22 triliun. Surat utang yang jatuh tempo, didominasi oleh perusahaan pembiayaan.


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Noverius Laoli

Mikail menambahkan, pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang melambat juga memengaruhi tertahannya peluncuran obligasi korporasi baru. Mikail memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kuartal III bisa berada di bawah 5%.

Baca Juga: Pefindo: Saat ini waktu tepat terbitkan obligasi korporasi

Baru-baru ini, PT Waskita Karya Tbk (WKST) menunda penerbitan obligasi senilai Rp 3,5 triliun hingga ke tahun depan. Tentunya, gagalnya WSKT menerbitkan obligasi turut mengurangi pertumbuhan emisi obligasi korporasi di tahun ini.

Di tengah tren penurunan suku bunga, Mikail mengatakan, korporasi akan dihadapkan pada tantangan penyerapan obligasi. Suku bunga turun membuat kupon yang ditawarkan korporasi juga ikut turun, sementara investor menginginkan kupon tinggi di tengah pasar saham yang masih terkoreksi.

Ia mengatakan, kupon besar yang diinginkan investor ada di 8%. Sementara, obligasi dengan rating AAA sudah di bawah 8%. Hal ini membuat investor jadi mengincar obligasi dengan rating yang lebih rendah. "Obligasi korporasi AAA akan sulit mengalami kelebihan permintaan lagi," kata Mikail.

Namun, di tengah perlambatan ekonomi yang masih berlanjut, Mikail memproyeksikan investor juga akan jadi lebih selektif mencari obligasi yang paling tidak memiliki rating investment grade.

Baca Juga: Rupiah ditutup melemah tipis 0,04% ke Rp 14.172 per dolar AS

Sektor finansial yang memiliki likuiditas tinggi jadi pilihan utama investor yang mengincar obligasi dibanding sektor non finansial.

Sementara, Mikail memproyeksikan penyerapan obligasi yang keluar dari perusahaan konstruksi juga akan mengalami tantangan tersendiri karena seiring dengan fokus pemerintah menggenjot infrastruktur obligasi yang keluar dari sektor ini jadi oversupply.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×