Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Untuk menopang integrasi jaringan dan ekspansi 5G, EXCL mengalokasikan capitalized capex Rp 10,27 triliun sepanjang semester I-2026.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai pertumbuhan pendapatan EXCL sejauh ini lebih banyak berasal dari konsolidasi merger dengan Tri dibandingkan pertumbuhan organik.
"Revenue scale up dari merger mulai mengimbangi sebagian biaya integrasi," ujar Wafi.
Menurut dia, menyusutnya kerugian menunjukkan operating leverage EXCL mulai membaik. Kondisi ini lazim terjadi setelah merger di industri telekomunikasi, ketika pertumbuhan pendapatan hasil konsolidasi biasanya lebih cepat terlihat, sedangkan efisiensi biaya membutuhkan waktu lebih panjang.
Baca Juga: Laba Kalbe Farma (KLBF) Turun Tipis di Semester I-2026, Cek Rekomendasi Sahamnya
Jika tren penyusutan kerugian terus berlanjut, Wafi melihat peluang EXCL mencapai titik impas dalam beberapa kuartal mendatang.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama juga melihat prospek EXCL lebih positif pada semester II-2026. Integrasi jaringan yang berjalan sesuai rencana berpotensi meningkatkan sinergi biaya, skala bisnis, EBITDA, dan margin.
"Tantangannya tetap pada besarnya beban depresiasi serta kebutuhan capex. Katalis utama EXCL adalah realisasi sinergi merger dan perbaikan cash flow," kata Elandry.
Baca Juga: Laba Siloam Melonjak 27,9% pada Semester I-2026, Simak Rekomendasi Analis
Dengan perbaikan operasional tersebut, konsensus analis saat ini merekomendasikan buy saham EXCL dengan target harga Rp 3.335 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
