kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.882   6,00   0,03%
  • IDX 6.374   105,97   1,69%
  • KOMPAS100 836   13,50   1,64%
  • LQ45 634   8,05   1,29%
  • ISSI 220   3,58   1,65%
  • IDX30 354   2,96   0,84%
  • IDXHIDIV20 429   0,94   0,22%
  • IDX80 95   1,52   1,62%
  • IDXV30 118   0,42   0,35%
  • IDXQ30 112   0,52   0,46%

Resmi! Ini Hasil Review Indeks MSCI Agustus 2026, Cek Prediksi Pasar Saham


Kamis, 13 Agustus 2026 / 05:51 WIB
Resmi! Ini Hasil Review Indeks MSCI Agustus 2026, Cek Prediksi Pasar Saham
ILUSTRASI. Morgan Stanley Capital International, MSCI (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Adi Wikanto, Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Penyedia indeks global MSCI mengumumkan perubahan konstituen indeks saham Indonesia dalam August 2026 Index Review. Dalam keputusan terbaru tersebut, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dikeluarkan dari indeks MSCI. Berikut prediksi pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pasca hasil review terbaru MSCI pada 12 Agustus 2026.

Selain GOTO, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) juga mengalami perubahan klasifikasi. Saham CPIN turun kelas dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index.

Tak hanya itu, sebanyak sembilan saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index.

Sembilan saham tersebut terdiri dari PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).

MSCI menyatakan seluruh perubahan dalam August 2026 Index Review akan diterapkan setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026.

Dengan demikian, perubahan konstituen tersebut akan mulai tercermin dalam perhitungan indeks MSCI sejak 1 September 2026.

Baca Juga: Saham AI Dongkrak Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq Menguat

Daftar saham Indonesia yang terkena perubahan MSCI

Berikut perubahan yang diumumkan MSCI untuk sejumlah saham Indonesia:

* GOTO: keluar dari indeks MSCI.
* CPIN: turun dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index.
* ARTO: keluar dari MSCI Global Small Cap Index.
* BUKA: keluar dari MSCI Global Small Cap Index.
* ESSA: keluar dari MSCI Global Small Cap Index.
* FILM: keluar dari MSCI Global Small Cap Index.
* HEAL: keluar dari MSCI Global Small Cap Index.
* KPIG: keluar dari MSCI Global Small Cap Index.
* RATU: keluar dari MSCI Global Small Cap Index.
* SMGR: keluar dari MSCI Global Small Cap Index.
* TCPI: keluar dari MSCI Global Small Cap Index.

Perubahan tersebut menjadi perhatian investor karena penyesuaian konstituen indeks MSCI berpotensi memengaruhi transaksi investor yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan portofolio.

Khusus GOTO, keputusan MSCI menjadi tambahan tekanan setelah saham perusahaan teknologi tersebut sebelumnya menghadapi persoalan likuiditas perdagangan.

Sementara bagi CPIN, perpindahan dari indeks Global Standard ke Global Small Cap menunjukkan perubahan klasifikasi saham dalam struktur indeks MSCI, meskipun saham tersebut tidak dikeluarkan sepenuhnya dari rangkaian indeks MSCI.

Tonton: Ekonomi Penuh Ketidakpastian, Ini Strategi Agar Keuangan Tetap Tangguh

Likuiditas anjlok

Penghapusan saham GOTO dari indeks MSCI adalah tindak lanjut dari kebijakan MSCI pada Mei 2026 yang membekukan perubahan terhadap saham GOTO karena rendahnya likuiditas perdagangan. Saat itu, MSCI menyoroti risiko index replicability, yakni kemampuan investor yang mengikuti indeks untuk mereplikasi portofolio dengan melakukan transaksi secara memadai.

Persoalan likuiditas GOTO tidak terlepas dari tekanan terhadap harga saham. Saham GOTO telah berada di level Rp50 per saham sejak pertengahan Mei 2026.

Dalam pengumuman Mei lalu, MSCI menyebut GOTO diperdagangkan pada harga minimum yang diperbolehkan di Bursa Efek Indonesia sejak penutupan perdagangan 13 Mei 2026. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan masalah dalam mereplikasi indeks oleh investor.

Karena itu, MSCI saat itu mempertahankan status GOTO dalam indeks, tetapi membekukan perubahan jumlah saham (number of shares/NOS), Foreign Inclusion Factor (FIF), Domestic Inclusion Factor (DIF), constraint factor, serta penambahan dan penghapusan saham GOTO dari indeks.

Kebijakan tersebut berlaku pada MSCI Global Investable Market Indexes maupun sejumlah indeks non-*market capitalization weighted*.

Penghapusan dari indeks MSCI berpotensi memengaruhi permintaan saham GOTO, terutama dari investor yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan investasi.

Investor pasif yang mereplikasi indeks pada umumnya perlu menyesuaikan portofolionya ketika terjadi perubahan konstituen. Namun, besarnya dampak terhadap harga saham tetap bergantung pada kondisi perdagangan, likuiditas dan strategi masing-masing investor.

Bagi GOTO, persoalannya juga tidak hanya terkait posisi saham di indeks. Harga saham yang bertahan di level minimum perdagangan membuat ruang pergerakan harga di pasar menjadi sangat terbatas dan menjadi perhatian bagi penyedia indeks global.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari GoTo mengenai keputusan terbaru MSCI tersebut.

Rekomendasi Saham 

Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya menyampaikan hasil rebalancing MSCI tidak akan berpengaruh besar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya pelaku pasar sedang menunggu apakah status freeze atas Indonesia akan dicabut oleh MSCI.

Ia mencatat, bobot Indonesia dalam indeks MSCI telah pulih dan stabil di level 0,5%, bangkit dari titik nadir 0,4% yang sempat tercatat pada Juni 2026.

Jika reformasi free float dan transparansi berhasil meyakinkan MSCI, arus dana pasif global akan kembali mengalir, dan IHSG punya bahan bakar menembus 6.650 secara berkelanjutan menuju 2027. Jika gagal, Indonesia berpotensi tetap terperangkap dalam status diskon.

Hendry juga menerangkan katalis utama yang perlu menjadi sorotan investor pada rebalancing kali ini cukup sederhana, yakni apakah kejutan dari hasil review MSCI melampaui ekspektasi yang sudah diantisipasi pelaku pasar.

Hendry menilai, tanpa adanya kejutan negatif, keputusan MSCI justru berpotensi menjadi pemantik rally bagi IHSG untuk breakout menembus resistance pola ascending triangle yang telah terbentuk.

Sebaliknya, apabila hasilnya lebih buruk dari ekspektasi, misalnya MSCI menurunkan peringkat Indonesia ke status frontier market, hal itu berisiko mematahkan level support yang ada.

Di sisi lain, Hendry mengingatkan kondisi geopolitik global turut menjadi tekanan tersendiri bagi pasar. Tensi antara Amerika Serikat dan Iran beserta pergerakan harga minyak dunia berpotensi mengancam inflasi, ditambah ekspektasi sikap hawkish dari bank sentral AS (The Fed) pada September mendatang.

Menurutnya, IHSG kini berpotensi membentuk pola ascending triangle yang mulai terbentuk sejak titik terendah (bottom) pada Juni 2026 di level 5.350.

"Ini gambaran klasik pasar yang menahan napas, menunggu satu katalis untuk naik bullish," kata Hendry kepada Kontan, Rabu (11/8/2026).

Untuk jangka pendek, Hendry memetakan level support IHSG berada di 6.270 dan 6.240 yang menjadi benteng terakhir, sementara area resistance berada di rentang 6.400-6.450 yang menjadi gerbang penentu arah.

Apabila IHSG mampu menembus level resistance tersebut, jalan menuju zona support di 6.650-6.750 akan terbuka lebar. Namun jika gagal dan support tersebut patah, indeks berpotensi terseret kembali ke area 6.000-5.750.

"Selama support naik bertahan, IHSG masih condong ke atas. Pasar seolah menunggu momentum breakout," ujar Hendry.




 

Garuda Tebar 170 Ribu Tiket Domestik Gratis untuk Wisman

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×