kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.783   -127,00   -0,71%
  • IDX 6.365   -44,28   -0,69%
  • KOMPAS100 835   -9,48   -1,12%
  • LQ45 634   -6,17   -0,96%
  • ISSI 221   -1,24   -0,56%
  • IDX30 356   -3,64   -1,01%
  • IDXHIDIV20 434   -4,17   -0,95%
  • IDX80 95   -1,11   -1,15%
  • IDXV30 120   -0,72   -0,60%
  • IDXQ30 113   -1,42   -1,25%

Laba SIDO Semester I di Bawah Estimasi, Analis Pangkas Target & Sarankan Hold


Senin, 10 Agustus 2026 / 16:21 WIB
Laba SIDO Semester I di Bawah Estimasi, Analis Pangkas Target & Sarankan Hold
ILUSTRASI. Fasilitas produksi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (DOK/SIDO)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) pada semester I 2026 berada di bawah ekspektasi. Proses normalisasi persediaan atau destocking yang berlangsung hingga Mei 2026 menekan penjualan, terutama pada segmen herbal.

Berdasarkan riset Mirae Asset Sekuritas, Andreas Saragih, SIDO membukukan pendapatan sebesar Rp 826 miliar pada kuartal II 2026. Angka ini turun 20,5% secara tahunan meski tumbuh 29% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) tercatat Rp186 miliar, anjlok 49,3% secara year on year (yoy), namun naik 26,6% secara kuartalan. Sementara itu, EBITDA mencapai Rp 266 miliar, turun 45,6% YoY dan tumbuh 23,5% secara kuartalan.

Baca Juga: Laba Sido Muncul (SIDO) Anjlok 44% di Semester I, Analis Yakin Ada Sinyal Pemulihan

Dengan demikian, sepanjang semester I 2026, pendapatan SIDO mencapai Rp 1,47 triliun atau turun 19,8% yoy. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 44,4% YoY menjadi Rp 334 miliar, sedangkan EBITDA merosot 40,1% menjadi Rp481 miliar.

Realisasi tersebut baru mencerminkan sekitar 40% dari proyeksi pendapatan tahun penuh 2026 versi analis dan 36% dari konsensus. Untuk PATMI, realisasi semester I hanya mencapai 31% dari proyeksi analis dan 28% dari konsensus. Sementara EBITDA masing-masing baru mencapai 33% dan 30%.

Capaian tersebut juga berada di bawah pola historis lima tahun terakhir. Pada semester I, kontribusi pendapatan biasanya berada di kisaran 41%-48% dari kinerja tahunan, sedangkan PATMI dan EBITDA masing-masing berada di rentang 40%-52%.

Manajemen SIDO menjelaskan tekanan kinerja terutama disebabkan proses normalisasi kanal distribusi yang berlangsung hingga Mei. Perusahaan melakukan penyesuaian sell-in dengan sell-out untuk mengembalikan tingkat persediaan distributor ke kondisi normal.

Tekanan tersebut kemudian diperburuk oleh negative operating leverage dan perubahan bauran penjualan yang kurang menguntungkan.

Segmen herbal menjadi sumber utama tekanan terhadap kinerja SIDO. Pendapatan segmen ini pada kuartal II 2026 turun 48,3% YoY menjadi Rp 370 miliar, meski naik 38% secara kuartalan.

Alhasil, pendapatan herbal sepanjang semester I 2026 turun 40,8% YoY menjadi Rp639 miliar seiring proses normalisasi persediaan.

Margin kotor segmen herbal juga menyempit menjadi 59,6%, turun 8,6 poin persentase YoY dan 2 poin persentase dibandingkan kuartal sebelumnya. Penurunan tersebut terutama disebabkan penyerapan biaya tetap manufaktur yang lebih rendah. Namun, penurunan harga sejumlah bahan baku mampu menahan sebagian tekanan margin.

Laba kotor segmen herbal hanya mencapai Rp 221 miliar, anjlok sekitar 55% YoY. Penurunan ini bahkan lebih besar dibandingkan penurunan laba kotor secara grup, mengingat segmen herbal masih menyumbang sedikit lebih dari separuh laba kotor konsolidasi SIDO.

Berbeda dengan herbal, segmen makanan dan minuman (food & beverage/F&B) menjadi satu-satunya segmen yang mencatat pertumbuhan pada kuartal II 2026.

Pendapatan F&B mencapai Rp 418 miliar, tumbuh 47,2% YoY dan 22,2% secara kuartalan. Dengan demikian, penjualan F&B sepanjang semester I 2026 mencapai Rp 760 miliar, meningkat 10,8% YoY.

Baca Juga: Kinerja Sido Muncul (SIDO) Tertekan pada Semester I-2026, Cek Rekomendasinya

Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspansi cepat produk C+Collagen serta varian baru Alang Sari dalam format ready-to-drink (RTD). Sementara itu, penjualan minuman energi relatif datar dan penjualan susu mengalami pelemahan.

Margin kotor F&B pada kuartal II tercatat 43,8%, turun tipis 0,5 poin persentase YoY, tetapi membaik 1,1 poin persentase secara kuartalan.

Meski demikian, margin kotor F&B semester I 2026 berada di 43,3%, turun 1,9 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tekanan terutama berasal dari perubahan bauran penjualan serta kenaikan harga sejumlah bahan baku seperti gula, taurin, perisa, asam sitrat, dan krimer.

Sementara itu, segmen farmasi menunjukkan kinerja yang relatif stabil. Pendapatan farmasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp38 miliar, turun 4,2% YoY tetapi tumbuh 25,7% secara kuartalan.

Secara kumulatif, pendapatan farmasi semester I 2026 mencapai Rp 67 miliar, tumbuh 7,2% YoY.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang produk over-the-counter (OTC). SIDO memperluas jangkauan distribusi produk OTC melalui distributor, kanal pemerintah, serta jaringan apotek.

Margin kotor farmasi kuartal II turun menjadi 35,6%, atau masing-masing turun 1,2 poin persentase YoY dan 3,9 poin persentase secara kuartalan. Namun, angka tersebut dipengaruhi basis margin yang tinggi pada kuartal I 2026.

Jika dilihat sepanjang semester I, margin kotor farmasi justru mencapai 37,4%, meningkat 4,8 poin persentase YoY. Perbaikan tersebut didorong oleh operating leverage serta penggunaan material per unit yang lebih rendah.

Dengan kinerja semester I yang masih tertekan, manajemen SIDO memangkas panduan penjualan 2026. Perusahaan kini menargetkan penurunan penjualan sekitar 10% YoY, dibandingkan target sebelumnya yang mengasumsikan penjualan relatif datar.

Manajemen tidak memberikan panduan laba bersih untuk tahun ini. Meski demikian, perusahaan menilai target penjualan baru tersebut masih dapat dicapai tanpa melakukan kenaikan harga maupun program last bite.

Baca Juga: Penjualan Turun, Laba Sido Muncul (SIDO) Susut Jadi Rp 333 Miliar Semester I-2026

Optimisme tersebut didasarkan pada berakhirnya proses normalisasi persediaan pada Mei. Persediaan di tingkat distributor juga disebut telah kembali ke level normal, yakni kurang dari tiga minggu.

Namun, analis masih melihat adanya tekanan terhadap prospek kinerja SIDO. Proyeksi pendapatan dan laba bersih 2026 masing-masing dipangkas 3,7% dan 24,9%. Untuk 2027, proyeksi pendapatan dan laba bersih juga diturunkan masing-masing 3,8% dan 23,2%.

Sejalan dengan revisi tersebut, rekomendasi saham SIDO diturunkan menjadi hold dari sebelumnya trading buy. Target harga juga dipangkas menjadi Rp 375 per saham dari sebelumnya Rp 470 per saham.

Analis tetap menggunakan pendekatan price to earnings ratio (P/E), dengan target multiple ditetapkan pada 1,25 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

Sejumlah risiko yang perlu dicermati antara lain pelemahan permintaan akibat persaingan yang semakin ketat, daya beli masyarakat yang lebih lemah, kenaikan harga minyak, serta biaya bahan baku yang lebih tinggi dari perkiraan.

Saat ini, saham SIDO diperdagangkan pada valuasi sekitar 12,8 kali P/E untuk proyeksi 2026, dengan estimasi dividend yield sekitar 8%.

Saham SIDO ditutup naik 1,7% di level Rp 358 per saham pada Senin (10/8/2026). 

Baca Juga: SIDO Agresif Pacu Pasar Ekspor, Analis Ingatkan Penjualan Domestik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×