Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Kontraktor Penambangan Tumbuh 11%
Berbeda dengan segmen alat berat, unit usaha kontraktor penambangan UNTR masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan. Segmen yang dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya, PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining), membukukan pendapatan bersih Rp 44,5 triliun, naik 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan tersebut terutama didorong oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).
Namun, dari sisi operasional, aktivitas kontraktor penambangan mengalami penurunan. Volume pemindahan tanah atau overburden removal PAMA dan KPP Mining tercatat sebesar 766 juta bank cubic meter (bcm), turun 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, volume produksi batu bara untuk klien turun 3% menjadi 106 juta ton, dengan rata-rata rasio pengupasan lapisan tanah penutup atau stripping ratio sebesar 7,2 kali. Penurunan tersebut mengikuti penyesuaian target produksi para klien sesuai dengan RKAB yang telah disetujui.
Di tengah perkembangan peluang bisnis mineral di luar batu bara, PAMA dan KPP Mining juga memperkuat ekspansi ke sektor emas dan nikel. Strategi ini ditujukan untuk membangun portofolio bisnis yang berkelanjutan sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Baca Juga: United Tractors (UNTR) Prediksi Kinerja Pulih Bertahap, Cek Rekomendasi Sahamnya
Tekanan juga terjadi pada segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung atau Turangga Resources.
Hingga kuartal III-2026, volume penjualan batu bara Turangga Resources tercatat sebesar 7,1 juta ton, termasuk 2,1 juta ton batu bara metalurgi. Volume tersebut turun 23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan penurunan volume penjualan, pendapatan bersih segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi terkoreksi 15% menjadi Rp 15,9 triliun.
Kinerja yang lebih tertekan terjadi pada segmen pertambangan emas dan mineral lainnya. Pendapatan bersih segmen ini turun 53% menjadi Rp 4,9 triliun hingga kuartal III-2026, terutama akibat penurunan penjualan emas sebesar 70%.
Bisnis pertambangan emas UNTR dijalankan oleh PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya. Kedua perusahaan tersebut mencatatkan total penjualan setara emas sebanyak 54.000 ons hingga kuartal III-2026, jauh lebih rendah dibandingkan 178.000 ons pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun pada bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 1,157 juta wet metric ton (wmt) hingga kuartal III-2026. Penjualan tersebut terdiri dari 390.000 wmt bijih nikel saprolit dan 767.000 wmt bijih nikel limonit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














